Pages

Sabtu, 05 Juli 2014

Ketika Sang Mata menjadi Mata Hati

Matahari tampak ramah menyinari kota ini. Kota dimana para penguasa berdiri. Megah bahkan terkesan arogan itulah kotaku. Berbanding terbalik dengan kehidupan ku. Bagi kami hidup itu keras tidak pernah memandang kata ramah. Semuanya berlomba mencari sesuap nasi. Bahkan, terkadang untuk sesuap nasi kami butuh tetesan darah.
Merah! inilah tanda yang kami tunggu. Dengan bekal gitar kecil butut, disinilah kami mencari sesuap nasi. Setiap nada kami alunkan, entah terdengar merdu ataupun tidak, yang penting kami mendapatkan recehan.
Mobil ini dengan warna merah nan elegan, ditunjang dengan pengemudinya yang cantik jelita bak jelmaan Bidadari. Mobil yang selalu menyapaku di tengah lampu merah.
" heh gembel! saya kan sudah bilang, jangan pernah ngamen di mobil ini ! dasar miskin. Sekolah sana yang rajin jangan cuma minta - minta gini dong ! "  Mata indahnya menyala - nyala seakan ingin menerkamku bulat – bulat.
Aku yang hanya gadis kecil kumel dengan bau khas anak jalanan tak tinggal diam dengan perkataan Bidadari Iblis itu.
" Oh ini mobil mbak ya. Bagus sih mobilnya. Tapi sayang, kelakuan mbak gak pantes sama mobil yang mbak bawa ini ! " jawabku yang penuh berapi-api dan menyindirnya.
Saat ia akan membuka mobil, untunglah lampu berubah menjadi hijau. Manusia setengah bidadari iblis itu pun pergi meninggalkanku yang segeri menepi.
" sudah lah Ana. orang - orang seperti itu memang pantas menghina kita. Kita mah orang kecil bisa apa ?? " sahabatku Siti mengingatkanku siapa kita sebenarnya.
" aku tau Siti. tapi tak seharusya dia setiap hari menghina kita bukan??"
" sudahlah Ana” kata Siti sambil menghitung uang hasil jerih payahnya.
" kalian berdua ayo lari " kata bang Agus mengingatkan kami yang sedang duduk bersantai menikmati panasnya udara kota ini.
Kami langsung berpikir, siapa lagi kalau bukan mereka yang selalu mengejar - ngejar kami. Kami pun berlari menjauh dari mereka. Anggap saja ini olahraga kami. Kapan lagi kami bisa berolahraga.
Mereka selalu ingin menangkap kami, dengan alasan menertibkan kami. Apa mereka tak pernah berpikir ? bagaimana nasib kami tanpa pekerjaan ini ? kami bukan anak di bawah umur yang dieksploitasi oleh kedua orang tua kami. Beginilah cara kami membanggakan mereka. Mungkin cara kami salah. Tapi, hanya cara seperti inilah yang kami perbuat. Dengan mencari uang yang masih halal menurut kami. Tanpa pekerjaan ini, kami tak akan bisa menghidupi keluarga kami bahkan diri kami sendiri.
~
Pagi masih menyapa dengan malu-malu. Aku melangkahkan kakiku menuju tempat dimana aku mengais rejeki. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sesosok orang yg tak asing bagiku, Siti
" hey An. ntar siang kita pulang cepat aja ya. Soalnya nanti sekolah jalanan di resmikan An "
" sekolah apaan ?? masih ada orang yg peduli dengan kita ? "tanyaku sedikit heran dengan Siti.
" An, kau tak mendengar berita. Ada dermawan yang mau buka sekolah jalanan di seberang jalan kampung kita An “
" siapa yang mau buka sekolah buat kita hah?? "
" aku sih nggak tau pasti An. yang jelas nanti ada gurunya di sekolah jalanan itu. Dan aku harus ikut "
" hmmm... " jawabku sambil berpikir.
Benar  kata Siti, siang ini sekolah jalanan dibuka. Banyak teman - temanku mendatangi sekolah jalanan ini. Aku melihat sesosok wanita yang umurnya aku taksir sekitar 20'an tahun dya sedang mengajari teman - temanku. Mungkin inilah sosok bidadari sesungguhnya itu.
Setelah beberapa hari aku mengikuti sekolah jalanan tersebut, banyak info yg aku dapatkan. Sekolah jalanan ini ternyata didirikan oleh wanita anak dari pengusaha. Sungguh baik wanita ini batinku. Di tengah - tengah kehidupan seperti ini, Dya masih memikirkan kami. Berbeda dengan bidadari iblis yang aku temui 10 hari yang lalu. Bidadari iblis, kemana dya pergi 10 hari ini ?? entah mengapa aku memikirkannya. Wanita yang selalu mengejekku ketika pagi tiba. Entah mengapa aku merindukannya.
" sit, kira-kira siapa sih yang membangun sekolah ini ?? apa kamu gak penasaran??"
" wanita sih An. hehe penasaran banget lah. ingin deh aku ngucapin terima kasih sma dya "
" ya taulah aku Sit kalau pendiri sekolah ini wanita. Aku juga sih ingin ucapin terima kasih. Kita tanya aja ke bu. Indri gimana?? "
" bener tuh An. Kita tanya infonya aja ke bu. Indri "
~
Rumah gedongan ini pemilik pendiri sekolah kami. Sekejap kami terkejut dengan rumah ini. Bak istana bidadari. Mewah dan megah.
" Sit, bener ini kan rumah Bu. Evi ?? "
" iya An. bener ini kok alamatnya "
Tiba - tiba kami dikejutkan dengan seorang satpam.
" cari siapa dek ?? "
" kami mencari Bu. Evi pak. Bu.Evinya ada pak ?? " tanyaku sopan.
" siapa pak?? apa ada orang mencari saya di luar ?? "
Tiba - tiba sesosok wanita keluar dari istana megahnya menghampiri kami. ada yang aneh Bidadari ini ternyata buta. Dan yang membuat Aku terkejut, Bidadari ini tak lain adalah Bidadari Iblis yang sering memakiku.
" kamuuuu!!! kamu kan Bidadari Iblis itu " jawabku terkejut sambil tetap bertanya Tanya.
" bukakan pintu buat mereka pak. aku ingin bicara dengan mereka "
Kami pun mengikuti Bidadari Iblis itu memasuki istananya.
" duduklah. namaku Evelina. Panggil saja Evi " katanya sambil berusaha menatapku.
Matanya yang penuh dengan aura kesombongan seakan sirna begitu saja. Apa benar dya adalah Bidadari Iblis itu ?? atau dia kembaran dari Bidadari Iblis itu.
" kamu Ana bukan?? orang yang selalu aku caci. AAku pemilik mobil merah yang setiap pagi memakimu. 5 hari yang lalu aku kecelakaan. dan menyebabkan aku buta. "
" kami ikut berduka atas musibah yang Anda alami "
" ya, aku tau musibah ini sangat membuatku menderita. Aku melihat semuanya gelap. Bahkan gemerlap dunia pun aku tak sanggup melihat lagi. namun, karena musibah ini mata hatiku terbuka. Selama ini aku salah memperlakukan kalian. Padahal, siapa aku?? aku hanyalah anak panti yang diambil oleh keluarga kaya ini. Tetapi mengapa aku malah bersikap sombong seperti ini?? " katanya dengan terisak.
Sungguh tersentuh aku melihatnya, Bidadari Iblis ini telah berubah menjadi Bidadari yang sesungguhnya. Sungguh aku lebih menyukainya ketika buta seperti ini.
" terus?? Mengapa kamu membangun sekolah jalanan untuk kami ? “
" aku peduli dengan kalian. Aku ingin diriku menjadi berarti buat semua orang. Hingga akhirnya aku membangun sekolah jalanan tersebut, dan menempatkan sahabatku Indri untuk mengajar disana. " katanya sambil menyunggingkan senyum sambil menyeka air matanya.
Wanita ini, telah benar – benar berubah. Aku pun menjadi ramah dengannya.
" terima kasih ya kak, kakak telah peduli dengan nasib kami. “
“ memang seharusnya aku begitu dari dulu “
Aku tertawa renyah mendengar jawaban sang Bidadari ini. bagaimana sifatnya bisa berubah menjadi seperti ini ?? apakah para penguasa harus menjadi buta terlebih dahulu agar mereka dapat melihat dengan mata hati ?? kasihan aku melihat wanita cantik ini. Seharusnya dia bisa melihat peradaban dunia yang semakin canggih ini. namun, justru dia menjadi buta seperti ini. Aku merasa aku orang yang beruntung didunia ini. Karena aku masih bisa melihat matahari tersenyum ketika sang fajar menyapa. Namun, aku sangat bangga dengan wanita ini. Bahkan aku lebih menyenanginya saat ia buta seperti ini. Jahat memang, tapi aku takut. ketika dia bisa melihat aku takut mata hatinya kembali buta. Buta kepada keadaan orang - orang tertindas. Tapi aku berharap bidadari cantik ini akan tetap menjadi bidadari sampai selamanya.

0 komentar:

Posting Komentar