Matahari tampak ramah menyinari kota
ini. Kota dimana para penguasa berdiri. Megah bahkan terkesan arogan itulah
kotaku. Berbanding terbalik dengan kehidupan ku. Bagi kami hidup itu keras tidak
pernah memandang kata ramah. Semuanya berlomba mencari sesuap nasi. Bahkan,
terkadang untuk sesuap nasi kami butuh tetesan darah.
Merah! inilah tanda yang kami tunggu.
Dengan bekal gitar kecil butut, disinilah kami mencari sesuap nasi. Setiap nada
kami alunkan, entah terdengar merdu ataupun tidak, yang penting kami mendapatkan
recehan.
Mobil ini dengan warna merah nan
elegan, ditunjang dengan pengemudinya yang cantik jelita bak jelmaan Bidadari.
Mobil yang selalu menyapaku di tengah lampu merah.
" heh gembel! saya kan sudah bilang,
jangan pernah ngamen di mobil ini ! dasar miskin. Sekolah sana yang rajin jangan
cuma minta - minta gini dong ! " Mata
indahnya menyala - nyala seakan ingin menerkamku bulat – bulat.
Aku yang hanya gadis kecil kumel
dengan bau khas anak jalanan tak tinggal diam dengan perkataan Bidadari Iblis
itu.
" Oh ini mobil mbak ya. Bagus
sih mobilnya. Tapi sayang, kelakuan mbak gak pantes sama mobil yang mbak bawa
ini ! " jawabku yang penuh berapi-api dan menyindirnya.
Saat ia akan membuka mobil, untunglah
lampu berubah menjadi hijau. Manusia setengah bidadari iblis itu pun pergi
meninggalkanku yang segeri menepi.
" sudah lah Ana. orang - orang
seperti itu memang pantas menghina kita. Kita mah orang kecil bisa apa ??
" sahabatku Siti mengingatkanku siapa kita sebenarnya.
" aku tau Siti. tapi tak
seharusya dia setiap hari menghina kita bukan??"
" sudahlah Ana” kata Siti sambil
menghitung uang hasil jerih payahnya.
" kalian berdua ayo lari "
kata bang Agus mengingatkan kami yang sedang duduk bersantai menikmati panasnya
udara kota ini.
Kami langsung berpikir, siapa lagi
kalau bukan mereka yang selalu mengejar - ngejar kami. Kami pun berlari menjauh
dari mereka. Anggap saja ini olahraga kami. Kapan lagi kami bisa berolahraga.
Mereka selalu ingin menangkap kami, dengan
alasan menertibkan kami. Apa mereka tak pernah berpikir ? bagaimana nasib kami
tanpa pekerjaan ini ? kami bukan anak di bawah umur yang dieksploitasi oleh kedua
orang tua kami. Beginilah cara kami membanggakan mereka. Mungkin cara kami
salah. Tapi, hanya cara seperti inilah yang kami perbuat. Dengan mencari uang
yang masih halal menurut kami. Tanpa pekerjaan ini, kami tak akan bisa
menghidupi keluarga kami bahkan diri kami sendiri.
~
Pagi masih menyapa dengan malu-malu.
Aku melangkahkan kakiku menuju tempat dimana aku mengais rejeki. Tiba-tiba aku
dikejutkan oleh sesosok orang yg tak asing bagiku, Siti
" hey An. ntar siang kita pulang
cepat aja ya. Soalnya nanti sekolah jalanan di resmikan An "
" sekolah apaan ?? masih ada
orang yg peduli dengan kita ? "tanyaku sedikit heran dengan Siti.
" An, kau tak mendengar berita.
Ada dermawan yang mau buka sekolah jalanan di seberang jalan kampung kita An “
" siapa yang mau buka sekolah
buat kita hah?? "
" aku sih nggak tau pasti An.
yang jelas nanti ada gurunya di sekolah jalanan itu. Dan aku harus ikut "
" hmmm... " jawabku sambil berpikir.
Benar
kata Siti, siang ini sekolah jalanan dibuka. Banyak teman - temanku
mendatangi sekolah jalanan ini. Aku melihat sesosok wanita yang umurnya aku
taksir sekitar 20'an tahun dya sedang mengajari teman - temanku. Mungkin inilah
sosok bidadari sesungguhnya itu.
Setelah beberapa hari aku mengikuti
sekolah jalanan tersebut, banyak info yg aku dapatkan. Sekolah jalanan ini ternyata
didirikan oleh wanita anak dari pengusaha. Sungguh baik wanita ini batinku. Di
tengah - tengah kehidupan seperti ini, Dya masih memikirkan kami. Berbeda dengan
bidadari iblis yang aku temui 10 hari yang lalu. Bidadari iblis, kemana dya
pergi 10 hari ini ?? entah mengapa aku memikirkannya. Wanita yang selalu
mengejekku ketika pagi tiba. Entah mengapa aku merindukannya.
" sit, kira-kira siapa sih yang
membangun sekolah ini ?? apa kamu gak penasaran??"
" wanita sih An. hehe penasaran
banget lah. ingin deh aku ngucapin terima kasih sma dya "
" ya taulah aku Sit kalau
pendiri sekolah ini wanita. Aku juga sih ingin ucapin terima kasih. Kita tanya
aja ke bu. Indri gimana?? "
" bener tuh An. Kita tanya infonya
aja ke bu. Indri "
~
Rumah gedongan ini pemilik pendiri
sekolah kami. Sekejap kami terkejut dengan rumah ini. Bak istana bidadari.
Mewah dan megah.
" Sit, bener ini kan rumah Bu. Evi
?? "
" iya An. bener ini kok
alamatnya "
Tiba - tiba kami dikejutkan dengan
seorang satpam.
" cari siapa dek ?? "
" kami mencari Bu. Evi pak. Bu.Evinya
ada pak ?? " tanyaku sopan.
" siapa pak?? apa ada orang
mencari saya di luar ?? "
Tiba - tiba sesosok wanita keluar
dari istana megahnya menghampiri kami. ada yang aneh Bidadari ini ternyata
buta. Dan yang membuat Aku terkejut, Bidadari ini tak lain adalah Bidadari Iblis
yang sering memakiku.
" kamuuuu!!! kamu kan Bidadari
Iblis itu " jawabku terkejut sambil tetap bertanya Tanya.
" bukakan pintu buat mereka pak.
aku ingin bicara dengan mereka "
Kami pun mengikuti Bidadari Iblis itu
memasuki istananya.
" duduklah. namaku Evelina.
Panggil saja Evi " katanya sambil berusaha menatapku.
Matanya yang penuh dengan aura
kesombongan seakan sirna begitu saja. Apa benar dya adalah Bidadari Iblis itu
?? atau dia kembaran dari Bidadari Iblis itu.
" kamu Ana bukan?? orang yang
selalu aku caci. AAku pemilik mobil merah yang setiap pagi memakimu. 5 hari
yang lalu aku kecelakaan. dan menyebabkan aku buta. "
" kami ikut berduka atas musibah
yang Anda alami "
" ya, aku tau musibah ini sangat
membuatku menderita. Aku melihat semuanya gelap. Bahkan gemerlap dunia pun aku
tak sanggup melihat lagi. namun, karena musibah ini mata hatiku terbuka. Selama
ini aku salah memperlakukan kalian. Padahal, siapa aku?? aku hanyalah anak
panti yang diambil oleh keluarga kaya ini. Tetapi mengapa aku malah bersikap
sombong seperti ini?? " katanya dengan terisak.
Sungguh tersentuh aku melihatnya,
Bidadari Iblis ini telah berubah menjadi Bidadari yang sesungguhnya. Sungguh
aku lebih menyukainya ketika buta seperti ini.
" terus?? Mengapa kamu membangun
sekolah jalanan untuk kami ? “
" aku peduli dengan kalian. Aku
ingin diriku menjadi berarti buat semua orang. Hingga akhirnya aku membangun
sekolah jalanan tersebut, dan menempatkan sahabatku Indri untuk mengajar
disana. " katanya sambil menyunggingkan senyum sambil menyeka air matanya.
Wanita ini, telah benar – benar
berubah. Aku pun menjadi ramah dengannya.
" terima kasih ya kak, kakak
telah peduli dengan nasib kami. “
“ memang seharusnya aku begitu dari
dulu “
Aku tertawa renyah mendengar jawaban
sang Bidadari ini. bagaimana sifatnya bisa berubah menjadi seperti ini ?? apakah
para penguasa harus menjadi buta terlebih dahulu agar mereka dapat melihat
dengan mata hati ?? kasihan aku melihat wanita cantik ini. Seharusnya dia bisa
melihat peradaban dunia yang semakin canggih ini. namun, justru dia menjadi
buta seperti ini. Aku merasa aku orang yang beruntung didunia ini. Karena aku
masih bisa melihat matahari tersenyum ketika sang fajar menyapa. Namun, aku sangat
bangga dengan wanita ini. Bahkan aku lebih menyenanginya saat ia buta seperti
ini. Jahat memang, tapi aku takut. ketika dia bisa melihat aku takut mata
hatinya kembali buta. Buta kepada keadaan orang - orang tertindas. Tapi aku
berharap bidadari cantik ini akan tetap menjadi bidadari sampai selamanya.

0 komentar:
Posting Komentar