Pages

Sabtu, 05 Juli 2014

Ketika Sang Mata menjadi Mata Hati

Matahari tampak ramah menyinari kota ini. Kota dimana para penguasa berdiri. Megah bahkan terkesan arogan itulah kotaku. Berbanding terbalik dengan kehidupan ku. Bagi kami hidup itu keras tidak pernah memandang kata ramah. Semuanya berlomba mencari sesuap nasi. Bahkan, terkadang untuk sesuap nasi kami butuh tetesan darah.
Merah! inilah tanda yang kami tunggu. Dengan bekal gitar kecil butut, disinilah kami mencari sesuap nasi. Setiap nada kami alunkan, entah terdengar merdu ataupun tidak, yang penting kami mendapatkan recehan.
Mobil ini dengan warna merah nan elegan, ditunjang dengan pengemudinya yang cantik jelita bak jelmaan Bidadari. Mobil yang selalu menyapaku di tengah lampu merah.
" heh gembel! saya kan sudah bilang, jangan pernah ngamen di mobil ini ! dasar miskin. Sekolah sana yang rajin jangan cuma minta - minta gini dong ! "  Mata indahnya menyala - nyala seakan ingin menerkamku bulat – bulat.
Aku yang hanya gadis kecil kumel dengan bau khas anak jalanan tak tinggal diam dengan perkataan Bidadari Iblis itu.
" Oh ini mobil mbak ya. Bagus sih mobilnya. Tapi sayang, kelakuan mbak gak pantes sama mobil yang mbak bawa ini ! " jawabku yang penuh berapi-api dan menyindirnya.
Saat ia akan membuka mobil, untunglah lampu berubah menjadi hijau. Manusia setengah bidadari iblis itu pun pergi meninggalkanku yang segeri menepi.
" sudah lah Ana. orang - orang seperti itu memang pantas menghina kita. Kita mah orang kecil bisa apa ?? " sahabatku Siti mengingatkanku siapa kita sebenarnya.
" aku tau Siti. tapi tak seharusya dia setiap hari menghina kita bukan??"
" sudahlah Ana” kata Siti sambil menghitung uang hasil jerih payahnya.
" kalian berdua ayo lari " kata bang Agus mengingatkan kami yang sedang duduk bersantai menikmati panasnya udara kota ini.
Kami langsung berpikir, siapa lagi kalau bukan mereka yang selalu mengejar - ngejar kami. Kami pun berlari menjauh dari mereka. Anggap saja ini olahraga kami. Kapan lagi kami bisa berolahraga.
Mereka selalu ingin menangkap kami, dengan alasan menertibkan kami. Apa mereka tak pernah berpikir ? bagaimana nasib kami tanpa pekerjaan ini ? kami bukan anak di bawah umur yang dieksploitasi oleh kedua orang tua kami. Beginilah cara kami membanggakan mereka. Mungkin cara kami salah. Tapi, hanya cara seperti inilah yang kami perbuat. Dengan mencari uang yang masih halal menurut kami. Tanpa pekerjaan ini, kami tak akan bisa menghidupi keluarga kami bahkan diri kami sendiri.
~
Pagi masih menyapa dengan malu-malu. Aku melangkahkan kakiku menuju tempat dimana aku mengais rejeki. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sesosok orang yg tak asing bagiku, Siti
" hey An. ntar siang kita pulang cepat aja ya. Soalnya nanti sekolah jalanan di resmikan An "
" sekolah apaan ?? masih ada orang yg peduli dengan kita ? "tanyaku sedikit heran dengan Siti.
" An, kau tak mendengar berita. Ada dermawan yang mau buka sekolah jalanan di seberang jalan kampung kita An “
" siapa yang mau buka sekolah buat kita hah?? "
" aku sih nggak tau pasti An. yang jelas nanti ada gurunya di sekolah jalanan itu. Dan aku harus ikut "
" hmmm... " jawabku sambil berpikir.
Benar  kata Siti, siang ini sekolah jalanan dibuka. Banyak teman - temanku mendatangi sekolah jalanan ini. Aku melihat sesosok wanita yang umurnya aku taksir sekitar 20'an tahun dya sedang mengajari teman - temanku. Mungkin inilah sosok bidadari sesungguhnya itu.
Setelah beberapa hari aku mengikuti sekolah jalanan tersebut, banyak info yg aku dapatkan. Sekolah jalanan ini ternyata didirikan oleh wanita anak dari pengusaha. Sungguh baik wanita ini batinku. Di tengah - tengah kehidupan seperti ini, Dya masih memikirkan kami. Berbeda dengan bidadari iblis yang aku temui 10 hari yang lalu. Bidadari iblis, kemana dya pergi 10 hari ini ?? entah mengapa aku memikirkannya. Wanita yang selalu mengejekku ketika pagi tiba. Entah mengapa aku merindukannya.
" sit, kira-kira siapa sih yang membangun sekolah ini ?? apa kamu gak penasaran??"
" wanita sih An. hehe penasaran banget lah. ingin deh aku ngucapin terima kasih sma dya "
" ya taulah aku Sit kalau pendiri sekolah ini wanita. Aku juga sih ingin ucapin terima kasih. Kita tanya aja ke bu. Indri gimana?? "
" bener tuh An. Kita tanya infonya aja ke bu. Indri "
~
Rumah gedongan ini pemilik pendiri sekolah kami. Sekejap kami terkejut dengan rumah ini. Bak istana bidadari. Mewah dan megah.
" Sit, bener ini kan rumah Bu. Evi ?? "
" iya An. bener ini kok alamatnya "
Tiba - tiba kami dikejutkan dengan seorang satpam.
" cari siapa dek ?? "
" kami mencari Bu. Evi pak. Bu.Evinya ada pak ?? " tanyaku sopan.
" siapa pak?? apa ada orang mencari saya di luar ?? "
Tiba - tiba sesosok wanita keluar dari istana megahnya menghampiri kami. ada yang aneh Bidadari ini ternyata buta. Dan yang membuat Aku terkejut, Bidadari ini tak lain adalah Bidadari Iblis yang sering memakiku.
" kamuuuu!!! kamu kan Bidadari Iblis itu " jawabku terkejut sambil tetap bertanya Tanya.
" bukakan pintu buat mereka pak. aku ingin bicara dengan mereka "
Kami pun mengikuti Bidadari Iblis itu memasuki istananya.
" duduklah. namaku Evelina. Panggil saja Evi " katanya sambil berusaha menatapku.
Matanya yang penuh dengan aura kesombongan seakan sirna begitu saja. Apa benar dya adalah Bidadari Iblis itu ?? atau dia kembaran dari Bidadari Iblis itu.
" kamu Ana bukan?? orang yang selalu aku caci. AAku pemilik mobil merah yang setiap pagi memakimu. 5 hari yang lalu aku kecelakaan. dan menyebabkan aku buta. "
" kami ikut berduka atas musibah yang Anda alami "
" ya, aku tau musibah ini sangat membuatku menderita. Aku melihat semuanya gelap. Bahkan gemerlap dunia pun aku tak sanggup melihat lagi. namun, karena musibah ini mata hatiku terbuka. Selama ini aku salah memperlakukan kalian. Padahal, siapa aku?? aku hanyalah anak panti yang diambil oleh keluarga kaya ini. Tetapi mengapa aku malah bersikap sombong seperti ini?? " katanya dengan terisak.
Sungguh tersentuh aku melihatnya, Bidadari Iblis ini telah berubah menjadi Bidadari yang sesungguhnya. Sungguh aku lebih menyukainya ketika buta seperti ini.
" terus?? Mengapa kamu membangun sekolah jalanan untuk kami ? “
" aku peduli dengan kalian. Aku ingin diriku menjadi berarti buat semua orang. Hingga akhirnya aku membangun sekolah jalanan tersebut, dan menempatkan sahabatku Indri untuk mengajar disana. " katanya sambil menyunggingkan senyum sambil menyeka air matanya.
Wanita ini, telah benar – benar berubah. Aku pun menjadi ramah dengannya.
" terima kasih ya kak, kakak telah peduli dengan nasib kami. “
“ memang seharusnya aku begitu dari dulu “
Aku tertawa renyah mendengar jawaban sang Bidadari ini. bagaimana sifatnya bisa berubah menjadi seperti ini ?? apakah para penguasa harus menjadi buta terlebih dahulu agar mereka dapat melihat dengan mata hati ?? kasihan aku melihat wanita cantik ini. Seharusnya dia bisa melihat peradaban dunia yang semakin canggih ini. namun, justru dia menjadi buta seperti ini. Aku merasa aku orang yang beruntung didunia ini. Karena aku masih bisa melihat matahari tersenyum ketika sang fajar menyapa. Namun, aku sangat bangga dengan wanita ini. Bahkan aku lebih menyenanginya saat ia buta seperti ini. Jahat memang, tapi aku takut. ketika dia bisa melihat aku takut mata hatinya kembali buta. Buta kepada keadaan orang - orang tertindas. Tapi aku berharap bidadari cantik ini akan tetap menjadi bidadari sampai selamanya.

Jumat, 04 April 2014

Surat untuk mu penghuni di Kursi Berkelas


Engkau yang disana, bersandar akan kursi berlapis emas
Disini kami memandang mu
Memandang akan tingkah laku sok bijaksananya diri mu
Engkau yang berdasi
Tak pernahkah engkau berpikir sejenak akan kaum pemakan singkong
Pernahkah engkau berpikir menjadi salah satu di antara mereka ?
Menangis meratapi nasib akan kejamnya jaman
Namun, engkau masih gagahnya menantang dunia
Dengarkan kami wahai penghuni istana nan kejam
Kami butuh engkau! Dalam menjalani roda kehidupan ini
Bukan hanya melihat tingkah laku kalian yang bertopeng

Ini Apa Ya ?

Kamu, masih menjadi satu - satunya nama yang menyangkut dihatiku.
Tak akan pernah terhapus walau aku mencoba melupakan.
Ketika aku berkata tidak, bukan berarti aku tak mau.
Hanya bibirku yang berkata, bukan dengan hatiku.
Egoku terlalu tinggi ketika masa muda mendera.
Ketika masa itu terlampaui, aku menyadari semuanya.
Inikah cinta ? Mengapa aku menolaknya ketika cinta menyapaku ?
Menyesal, mungkin hanya kata itu yang selalu menderu dalam hatiku.

Sabtu, 29 Maret 2014

Denting Piano

         denting itu aku mendengarnya kembali. Denting nada yang mengalun indah dengan sang pagi. Aku mengikuti arah denting nada itu. Lagi-lagi nada itu menghilang ketika aku mencapai gagang pintu ruang musik ini. Ya ruangan ini memang digunakan untuk beberapa siswa yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler musik. Aku sendiri sering berada disini. Namun, aku tak pernah mendengar denting nada itu semenjak 1 minggu lalu hingga sekarang ini. Aku curiga apa kelas ini memiliki penunggu yang suka dengan nada - nada piano? seketika bulu kudukku merinding memikirkannya. Cepat-cepat aku menjauh dari pintu itu dan menuju kelasku.

" hey daniel. ngapain kamu ada disini? kita bakalan masuk bro 5 menit lagi. " sapa temanku yang mengagetkanku, ketika aku akan berbalik menjauh dari pintu itu.
Aku Daniel Dirgantara murid kelas 12 SMA Harapan. Dan temanku yang memamnggilku adalah Jo. Teman dekatku bahkan telah aku anggap saudara sendiri. Ya, kami berteman ketika kami masih sama - sama memakai seragam merah putih.
" biasa bro. kayak nggak tau aja lu bro " jawab ku sekenanya. ingin aku katakan pada jo tentang denting nada misterius itu. Namun, aku takut Jo malah meledekku terlalu penakut. Lalu aku menjauh dari pintu itu.
.......
" syukurlah " kata gadis oriental ini yang memiliki rambut hitam panjang dengan poni sedikit menutupi matanya.
" albert  kamu dimana sih! aku takut ada orang tau aku sedang menunggumu disini. " kata gadis cantik ini sedikit sedih sambil memencet nada – nada piano.
Namun, albert tak juga datang hingga akhirnya membuat cewek ini jenuh dan meninggalkan kelas musik dengan sedikit mengendap-endap.
........
" maaf " kata gadis berponi ini kepadaku.
Padahal sebenarnya aku yang tak sengaja menabraknya. Namun, justru Viandra lah yang meminta maaf kepadaku. Gadis berponi berwajah oriental ini Viandra adik kelasku di SMA Harapan ini. Aku mengenalnya karena dia satu ektrakurikuler denganku. Sifatnya yang pendiam dan sedikit misterius membuat dia sedikit tidak disukai sehingga jarang ada orang yg mau berteman dengannya. Setahuku selama ini yang dekat dengan dia adalah Albert.
" gak seharusnya kamu kali' Via yang minta maaf. aku yang salah. aku jalan gak liat - liat sih jadi nabrak kamu kan " jawabku sedikit menenangkan Viandra.
" Viandra yang salah kak Daniel " katanya dengan sedikit menunduk.
Beginilah Viandra dia terlalu polos menjadi gadis. Hingga terkadang ia malah menjadi objek bully'an oleh kakak kelas ekskul padahal kemampuannya bermain piano tak bisa diragukan.
" iya deh kamu yang salah " jawabku yang sedikit bercanda.
" jadi beneran Viandra ya yg slah kak Daniel? " jawab dia sambil menatapku dengan sedikit membelalakkan matanya.
Namun kesan polos masih saja menghinggapinya. Ah wajah itu dengan mata nya yang sipit yang berusaha ia bulatkan, membuatku terpana sejenak. tatapannya yang lembut bahkan polosnya dia seakan menghentikan jantungku. Sebelum hal ini terjadi aku membuang muka.
" udahlah Via, hal kecik kayak gini kamu bahas. Mau kemana kamu? " tanyaku sambil sedikit salah tingkah.
" ini mau ke perpustakaan kak ngembaliin buku " jawabnya sambil sedikit menunduk. seandainya Viandra tak banyak menunduk dan sedikit terbuka, mungkin akan banyak cowok yang suka padanya.
" oke deh see you ya. aku mah mau ke kantin. "
" iya kak " kata dia berlalu meninggalkanku.
" hey via. jangan lupa nanti sore kumpul ya " kataku sedikit berteriak. Langkah Viandra terhenti dan menengok padaku sambil menyunggingkan senyumnya yang aku artikan  ia menjawab " iya "
......
Sial! lagi - lagi aku mendengar denting nada piano itu lagi. Siapa sih yang memainkannya di saat jam istirahat seperti ini. Kelas musik kami memang terletak sangat jauh. Di lantai 2 yang berdampingan dengan aula. Sehingga kelas musik ini sangat jarang sekali tersentuh.
Perlahan aku mengintip, sial! jendelanya tertutup dengan gorden. Perlahan aku membuka pintu.
" kosong! gak mungkin! " kataku sedikit terkejut.
Bagaimana bisa ruangan ini kosong padahal jelas - jelas denting piano tadi berasal dari arah sini. Mungkin pikiranku yang sudah enggak waras pikirku. Lagi - lagi bulu kudukku berdiri. Seketika itu tiba-tiba aku merasakan ada yg mendekat dan menepukku
" hey bro. ngapain lu disini? nggak takut sama penghuni kelas musik ini lu bro " kata Jo mengagetkanku
" lu sendiri ngapain kesini. gue mah nggak pernah takut hal begituan " jawabku dengan sedikit menjotos dadanya karena telah mengagetkanku.
" tapi tempat ini bener-bener serem bro. beberapa anak denger suara denting piano tapi ketika dibuka malah gak ada siapa - siapa "
Deg seketika jantungku berhenti. ternyata firasatku benar ternyata memang penunggu kelas ini lah yang memainkannya.
" apa hantu dia ya bro " kata Jo membuyarkan lamunanku.
" nggak mungkin lah bro. dia sudah tenang dialam sana bro" jawabku dengan sedikit memikirkan kata - kata Jo apa mungkin dya.
......
" untunglah albert mereka tidak melihat kita " kata Viandra ketika Daniel dan Jo berhasil menjauh dari pintu kelas musik.
Viandra lalu menjauh dari kelas itu sambil menutup pintu perlahan sambil memandang seseorang
" kamu nggak ikut masuk ke kelas? " kata Viandra. Sebelum Viandra memberikan kesempatan seseorang tersebut menjawab, ia menutup pintu dan menjauh dengan perasaan yang begitu senang.
.....
Malam ini malam puncak perayaan ulang tahun sekolah kami. Dengan tema sedikit glamour, banyak sekali siswa - siswi yang menyulap dirinya seperti kaum sosialita. Ya, memang sekolah kami adalah salah satu sekolah ternama di kota ini dengan kebanyakan wajah - wajah oriental seperti ku ini. nggak ke-PD’an sih aku memang keturunan chinese dengan bola mata coklat dengan tatanan rambut sedikit mirip suju. Jadi tak heran jika sekolah kami banyak sekali siswa - siswi yang berkelas atas.
Namun, hal ini yang buat aku nggak suka. Rasa iri satu sama lain begitu besar terlebih untuk para kaum hawa. Mereka selalu ingin jadi yang lebih baik. Ketika ada yang lebih dari dia maka tak segan - segan mereka melakukan hal yang aneh seperti halnya melabrak tanpa sebab. Aku menatap di kejauhan, gadis itu gadis pujaanku dulu masih cantik sampai sekarang seperti namanya Cantika Lestari. Dia gadis yang aku kagumi ketika kita masih kelas 11. Tapi dia lebih suka dengan Albert. Padahal Albert tak jauh lebih ganteng daripada aku. Dia memang keturunan Australia menurutku dia biasa - biasa aja.
Rasa mengagumi itu masih ada tapi sudah bukan cinta. Kelakuannya yang buruk. yang banyak digosipkan oleh beberapa orang membuatku ilfil dan enggan dekat-dekat dengan dia lagi toh dya juga tak pernah punya perasaan dengan ku.
" hay Daniel " sapanya membuyarkan lamunanku.
" hay Cantik " jawabku sambil menyunggingkan senyum terbaikku.
" ngapain lu ngelamun gak jelas Niel " kata Sora sahabat yang selalu bersama Cantik.
Mereka berdua selalu bersama - sama. Sifat Cantik yang begitu anggun berbeda jauh dengan sifat Sora yang sedikit tomboy. Sora adalah mantan sahabat terbaikku Jo ketika mereka masih berada di kelas 11.
" gue lagi bete disini " jawab ku sekenanya dengan meninggalkan mereka berdua dengan sedikit menjauh dari kebisingan.
Kemana lagi aku menjauh kalau bukan ke kelas musik. ingin aku memainkan piano hari ini.
Deg lagi-lagi suara itu berbunyi. Sial! kenapa malem - malem gini gue kesini sih. Dengan sedikit keberanian aku buka pintu itu. Lagi - lagi tidak ada orang di dalam sini.
Ruangan ini begitu gelap. Hanya ada 1 lilin diatas piano. Padahal aku ingat benar nggak pernah ada yang kesini. Dan lilin itu masih baru. Yang aku herankan kembali, kenapa dia memilih lilin daripada lampu.
Lampu, kemana saja pikiranku. Langsung aku menekan saklar dan ruangan itu terang. Tidak ada siapa - siapa pikirku. Tapi aku yakin ini bukan hantu mana mungkin hantu bisa menghidupkan  lilin. Aku mendekat ke arah piano.
Tanpa disadari aku melihat sosok gadis bergaun putih selutut melompat dari tempat persembunyiaanya dan sedikit berteriak.
" arrgghh tikut " kata gadis itu melompat menjauh tanpa menyadari aku masih mengamatinya.
" Viandra ngapain kamu disini ? " tanyaku.
Gadis itu memang Viandra. Jadi selama ini pemain denting piano itu Viandra. Jelas saja suara piano itu begitu indah. Tapi kenapa dia sembunyi ketika aku melihatnya ?. Gadis ini memang penuh dengan misteri.
" aa aaku  nungguin Albert " katanya sedikit menunduk tanpa berani memandangku.
Kemudiaan aku mendekat dan mendongakkan wajahnya.
Lagi - lagi mata itu begitu tulus, aku jatuh cinta padanya.
" Albert? dya gak bakalan datang Via " jawabku sedikit emosi. Bagaimana tidak dua orang yang aku cintai jatuh cinta dengan Albert yang menurutku biasa - biasa saja.
" dya pasti dateng kak " jawabnya dengan menitikkan air mata.
Oh Via jangan menangis, kamu sama saja membuatku hatiku teriris.
" kamu tau kan Albert kecelakaan 1 tahun yang lalu? "
" aku tau dan aku penyebabnya " jawabnya yang membuat aku sedikit bingung.
" malam itu seperti ini, Albert mengatakan padaku dya menungguku di ruang ini untuk mengatakan sesuatu padaku. Aku yang dengan girangnya menyusul Albert ke ruang ini. Namun, kak Cantika kak Sora kak Jo menghadangku dan menyeretku ke kamar mandi dekat aula. mereka menyekapku kak " ceritanya sambil menangis.
Spontan aku memeluknya dan berpikir kenapa sahabatku ikut dalam hal seperti ini.
" kak Cantik bilang padaku. aku telah merebut kak Albert. Dan karena kak Jo pacar kak Sora dia ikut membantu " katanya menjelaskan seakan dia tau apa yang sedang aku pikirkan tentang Jo. Jo, sahabatku, rela melakukan hal bodoh seperti ini demi Sora. Tak habis kupikir.
" 1 malam aku di sekap kak. Kemudian pak Toni penjaga sekolah membuka toilet ini dan menemukanku ketika hari sudah pagi. Seketika itu aku langsung menuju ke tempat ini. Dan kak Albert nggak ada kak. Hanya ada surat di piano ini.
“ aku menunggumu seharian tapi kau tak datang Via. Aku mencintaimu ingin aku mainkan lagu untukmu. kamu tau kiss the rain oleh Yiruma? ya aku sangat menyukainya Via. ingin aku mainkan untukmu tapi mungkin kau tak mau. Maaf aku telah mecintaiimu. “ " tangis viandra langsung membludak mengingat kejadian itu.
" dan pagi itu juga aku mendengar kabar albert kecelakaan kak " kisah itu begitu mengharukan aku hanyut dalam cerita Viandra yang terisak. Aku tak menyangka bahwa keduanya sangat mencintai seperti ini.
" hari ini harusnya dia datang. Karena 1 minggu terakhir ini aku menunggunya dan meilihatnya disini. Aku jadi gila kak! setiap hari aku selalu bicara sendiri disini. Seperti halnya aku melihat albert. Aku hanya ingin bertemu dengan dya kak satu kali saja dan aku ingin kataka aku cinta padanya " viandra menangis dan begitu erat mendekapku.
Oh via jangan menangis kumohon, kuatkanlah dirimu Viandra. Aku menatapnya bola mata itu menatapku dengan sendu
" besok pulang sekolah datanglah kesini. akan kupastikan dya disini "kataku sekenanya. Aku tak tau apa yang sedang aku katakan yang aku tau aku ingin menghiburnya. Padahal aku tak tau bagaimana caranya mengembalikan Albert kesini jelas itu mustahil.
.....
Hari ini hari dimana aku harus mengembalikan Albert. mungkin seperti inilah caranya dengan berpakaian yang mirip dengan cara berpakaian Albert. Albert biasanya yang selalu rapi dengan kacamatanya yang menghiasi matanya. sekilas albert memang mirip Afgan tapi albert jauh lebih putih dari Afgan karena kulitnya yang keturunan Australia. Tak lupa aku memainkan lagu kiss the rain lagu yang akan dilantukan oleh Albert.
Tak sulit bagiku, karena memang aku sudah terbiasa dengan alat musik mulai dari gitar, drum, piano bahkan menyanyi. Perlahan aku dentingkan piano ini perlahan mengalun lembut seakan aku masuk ke dalam kejadian ketika Albert ingin menemui Viandra. Entahlah jantungku terasa berpacu dengan cepat.
tok tok tok suara langkah kaki itu mendekat dan klik dia membuka pintu.
" Albert " sapanya bergetar
Aku terus melantunkan lagi itu hingga dia berjalan perlahan menghampiriku dengan terisak.
" apa ini beneran kamu Albert ?. maafkan aku Albert " katanya mendekat padaku. sedetik kemudian aku menghentikan alunan ku dan menghadapnya aku mencintaimu Viandra.
" aku juga mencintaimu Albert " jawabnya sambil memeluk aku.
Seandainya dia mengatakan itu untukku bukan untuk Albert betapa bahagianya hatiku. Namun, yang diliatnya sekarang bukan Daniel tapi aku sebagai Albert. Kemudian dia tersadar dan melepaskan pelukannya.
" kak Daniel ? " jawabnya sambil menatapku
" ya Via, ini aku Daniel. Beginilah caraku untuk memutar kejadian masa lalu " jawabku sambil menyunggingkan senyum terindahku.
" terima kasih kak Daniel. Dengan begini aku lega. Bahkan aku tau Albert juga melihatnya sekarang " jawabnya sambil memelukku kembali.
Albert begitu beruntung sempat mencintai gadis ini. Aku mengetahui dia sangat mencintai Viandra ketika dya sedang berjalan denganku menuju kelas musik ini. Betapa bahagianya dia menceritakan Viandra betapa matanya berbinar ketika melihatnya. Dan aku bisa menebak dia sangat mencintainya. Saat itu aku tak terlalu memperhatikan sosok idaman Albert, karena ketika itu aku sangat mencintai Cantika.
Viandra aku juga menyukaimu batinku dalam hati.
" terima kasih ya kak, Viandra harus pulang " dia membalikkan badannya dan akan meninggalkanku.
" aku mencintaimu Viandra bukan sebagai Albert tapi sebagai Daniel " kataku perlahan namun pasti.
Viandra langsung menghentikan langkahnya dan menyunggingkan senyum padaku. senyum itu penuh misteri dan kali ini aku tak tau artinya.
.....
Pagi yang cerah dengan berbalut pakaian warna hitam yang menandakan duka. Aku berjalan perlahan menghindari pusara - pusara agar tidak terinjak dan sampailah aku pada satu nama pusara " Albertus Carloes "
" hay Bert, maaf aku baru datang kesini, maaf aku sempat iri padamu ketika kau masih hidup, maaf aku telah menertawakanmu ketika kau meninggal, dan maaf aku telah mengambil Viandra darimu. Tapi percayalah aku akan menjaganya seperti halnya kau akan menjaganya ketika kau bercerita padaku. Aku akan membahagiakannya seperti halnya dirimu membuat dirinya tersenyum. Percayalah padaku Albert aku tak akan menyia-nyiakan orang yang engkau cintai. Akan aku jaga Viandra sampai dia kembali kepadamu dan berada disisi Tuhan. " aku mengatakan hal yang tulus dari hatiku. Tak pernah aku berucap setulus ini. dengan masih menggemgam tangan Viandra aku meninggalkan pusara Albert.
Viandra menerima cintaku setelah ia tersenyum dan menghampiriku.
“ aku juga mencintaimu kak Daniel “ katanya dengan memelukku.