denting itu aku mendengarnya kembali.
Denting nada yang mengalun indah dengan sang pagi. Aku mengikuti arah denting
nada itu. Lagi-lagi nada itu menghilang ketika aku mencapai gagang pintu ruang
musik ini. Ya ruangan ini memang digunakan untuk beberapa siswa yang memiliki
kegiatan ekstrakurikuler musik. Aku sendiri sering berada disini. Namun, aku
tak pernah mendengar denting nada itu semenjak 1 minggu lalu hingga sekarang
ini. Aku curiga apa kelas ini memiliki penunggu yang suka dengan nada - nada
piano? seketika bulu kudukku merinding memikirkannya. Cepat-cepat aku menjauh
dari pintu itu dan menuju kelasku.
" hey daniel. ngapain kamu ada
disini? kita bakalan masuk bro 5 menit lagi. " sapa temanku yang
mengagetkanku, ketika aku akan berbalik menjauh dari pintu itu.
Aku Daniel Dirgantara murid kelas 12 SMA
Harapan. Dan temanku yang memamnggilku adalah Jo. Teman dekatku bahkan telah
aku anggap saudara sendiri. Ya, kami berteman ketika kami masih sama - sama
memakai seragam merah putih.
" biasa bro. kayak nggak tau aja
lu bro " jawab ku sekenanya. ingin aku katakan pada jo tentang denting
nada misterius itu. Namun, aku takut Jo malah meledekku terlalu penakut. Lalu
aku menjauh dari pintu itu.
.......
" syukurlah " kata gadis
oriental ini yang memiliki rambut hitam panjang dengan poni sedikit menutupi
matanya.
" albert kamu dimana sih! aku takut ada orang tau aku
sedang menunggumu disini. " kata gadis cantik ini sedikit sedih sambil
memencet nada – nada piano.
Namun, albert tak juga datang hingga
akhirnya membuat cewek ini jenuh dan meninggalkan kelas musik dengan sedikit
mengendap-endap.
........
" maaf " kata gadis berponi
ini kepadaku.
Padahal sebenarnya aku yang tak
sengaja menabraknya. Namun, justru Viandra lah yang meminta maaf kepadaku. Gadis
berponi berwajah oriental ini Viandra adik kelasku di SMA Harapan ini. Aku
mengenalnya karena dia satu ektrakurikuler denganku. Sifatnya yang pendiam dan
sedikit misterius membuat dia sedikit tidak disukai sehingga jarang ada orang
yg mau berteman dengannya. Setahuku selama ini yang dekat dengan dia adalah Albert.
" gak seharusnya kamu kali' Via
yang minta maaf. aku yang salah. aku jalan gak liat - liat sih jadi nabrak kamu
kan " jawabku sedikit menenangkan Viandra.
" Viandra yang salah kak Daniel
" katanya dengan sedikit menunduk.
Beginilah Viandra dia terlalu polos
menjadi gadis. Hingga terkadang ia malah menjadi objek bully'an oleh kakak
kelas ekskul padahal kemampuannya bermain piano tak bisa diragukan.
" iya deh kamu yang salah "
jawabku yang sedikit bercanda.
" jadi beneran Viandra ya yg
slah kak Daniel? " jawab dia sambil menatapku dengan sedikit membelalakkan
matanya.
Namun kesan polos masih saja
menghinggapinya. Ah wajah itu dengan mata nya yang sipit yang berusaha ia
bulatkan, membuatku terpana sejenak. tatapannya yang lembut bahkan polosnya dia
seakan menghentikan jantungku. Sebelum hal ini terjadi aku membuang muka.
" udahlah Via, hal kecik kayak
gini kamu bahas. Mau kemana kamu? " tanyaku sambil sedikit salah tingkah.
" ini mau ke perpustakaan kak
ngembaliin buku " jawabnya sambil sedikit menunduk. seandainya Viandra tak
banyak menunduk dan sedikit terbuka, mungkin akan banyak cowok yang suka
padanya.
" oke deh see you ya. aku mah
mau ke kantin. "
" iya kak " kata dia
berlalu meninggalkanku.
" hey via. jangan lupa nanti
sore kumpul ya " kataku sedikit berteriak. Langkah Viandra terhenti dan
menengok padaku sambil menyunggingkan senyumnya yang aku artikan ia menjawab " iya "
......
Sial! lagi - lagi aku mendengar
denting nada piano itu lagi. Siapa sih yang memainkannya di saat jam istirahat
seperti ini. Kelas musik kami memang terletak sangat jauh. Di lantai 2 yang
berdampingan dengan aula. Sehingga kelas musik ini sangat jarang sekali tersentuh.
Perlahan aku mengintip, sial!
jendelanya tertutup dengan gorden. Perlahan aku membuka pintu.
" kosong! gak mungkin! "
kataku sedikit terkejut.
Bagaimana bisa ruangan ini kosong
padahal jelas - jelas denting piano tadi berasal dari arah sini. Mungkin
pikiranku yang sudah enggak waras pikirku. Lagi - lagi bulu kudukku berdiri. Seketika
itu tiba-tiba aku merasakan ada yg mendekat dan menepukku
" hey bro. ngapain lu disini?
nggak takut sama penghuni kelas musik ini lu bro " kata Jo mengagetkanku
" lu sendiri ngapain kesini. gue
mah nggak pernah takut hal begituan " jawabku dengan sedikit menjotos
dadanya karena telah mengagetkanku.
" tapi tempat ini bener-bener
serem bro. beberapa anak denger suara denting piano tapi ketika dibuka malah
gak ada siapa - siapa "
Deg seketika jantungku berhenti.
ternyata firasatku benar ternyata memang penunggu kelas ini lah yang
memainkannya.
" apa hantu dia ya bro "
kata Jo membuyarkan lamunanku.
" nggak mungkin lah bro. dia
sudah tenang dialam sana bro" jawabku dengan sedikit memikirkan kata -
kata Jo apa mungkin dya.
......
" untunglah albert mereka tidak
melihat kita " kata Viandra ketika Daniel dan Jo berhasil menjauh dari
pintu kelas musik.
Viandra lalu menjauh dari kelas itu
sambil menutup pintu perlahan sambil memandang seseorang
" kamu nggak ikut masuk ke kelas?
" kata Viandra. Sebelum Viandra memberikan kesempatan seseorang tersebut
menjawab, ia menutup pintu dan menjauh dengan perasaan yang begitu senang.
.....
Malam ini malam puncak perayaan ulang
tahun sekolah kami. Dengan tema sedikit glamour, banyak sekali siswa - siswi yang
menyulap dirinya seperti kaum sosialita. Ya, memang sekolah kami adalah salah
satu sekolah ternama di kota ini dengan kebanyakan wajah - wajah oriental
seperti ku ini. nggak ke-PD’an sih aku memang keturunan chinese dengan bola
mata coklat dengan tatanan rambut sedikit mirip suju. Jadi tak heran jika
sekolah kami banyak sekali siswa - siswi yang berkelas atas.
Namun, hal ini yang buat aku nggak
suka. Rasa iri satu sama lain begitu besar terlebih untuk para kaum hawa. Mereka
selalu ingin jadi yang lebih baik. Ketika ada yang lebih dari dia maka tak
segan - segan mereka melakukan hal yang aneh seperti halnya melabrak tanpa
sebab. Aku menatap di kejauhan, gadis itu gadis pujaanku dulu masih cantik
sampai sekarang seperti namanya Cantika Lestari. Dia gadis yang aku kagumi
ketika kita masih kelas 11. Tapi dia lebih suka dengan Albert. Padahal Albert
tak jauh lebih ganteng daripada aku. Dia memang keturunan Australia menurutku
dia biasa - biasa aja.
Rasa mengagumi itu masih ada tapi
sudah bukan cinta. Kelakuannya yang buruk. yang banyak digosipkan oleh beberapa
orang membuatku ilfil dan enggan dekat-dekat dengan dia lagi toh dya juga tak
pernah punya perasaan dengan ku.
" hay Daniel " sapanya
membuyarkan lamunanku.
" hay Cantik " jawabku sambil
menyunggingkan senyum terbaikku.
" ngapain lu ngelamun gak jelas Niel
" kata Sora sahabat yang selalu bersama Cantik.
Mereka berdua selalu bersama - sama. Sifat
Cantik yang begitu anggun berbeda jauh dengan sifat Sora yang sedikit tomboy. Sora
adalah mantan sahabat terbaikku Jo ketika mereka masih berada di kelas 11.
" gue lagi bete disini "
jawab ku sekenanya dengan meninggalkan mereka berdua dengan sedikit menjauh
dari kebisingan.
Kemana lagi aku menjauh kalau bukan
ke kelas musik. ingin aku memainkan piano hari ini.
Deg lagi-lagi suara itu berbunyi. Sial!
kenapa malem - malem gini gue kesini sih. Dengan sedikit keberanian aku buka
pintu itu. Lagi - lagi tidak ada orang di dalam sini.
Ruangan ini begitu gelap. Hanya ada 1
lilin diatas piano. Padahal aku ingat benar nggak pernah ada yang kesini. Dan
lilin itu masih baru. Yang aku herankan kembali, kenapa dia memilih lilin
daripada lampu.
Lampu, kemana saja pikiranku. Langsung
aku menekan saklar dan ruangan itu terang. Tidak ada siapa - siapa pikirku. Tapi
aku yakin ini bukan hantu mana mungkin hantu bisa menghidupkan lilin. Aku mendekat ke arah piano.
Tanpa disadari aku melihat sosok
gadis bergaun putih selutut melompat dari tempat persembunyiaanya dan sedikit
berteriak.
" arrgghh tikut " kata
gadis itu melompat menjauh tanpa menyadari aku masih mengamatinya.
" Viandra ngapain kamu disini ?
" tanyaku.
Gadis itu memang Viandra. Jadi selama
ini pemain denting piano itu Viandra. Jelas saja suara piano itu begitu indah. Tapi
kenapa dia sembunyi ketika aku melihatnya ?. Gadis ini memang penuh dengan
misteri.
" aa aaku nungguin Albert " katanya sedikit
menunduk tanpa berani memandangku.
Kemudiaan aku mendekat dan
mendongakkan wajahnya.
Lagi - lagi mata itu begitu tulus, aku
jatuh cinta padanya.
" Albert? dya gak bakalan datang
Via " jawabku sedikit emosi. Bagaimana tidak dua orang yang aku cintai
jatuh cinta dengan Albert yang menurutku biasa - biasa saja.
" dya pasti dateng kak "
jawabnya dengan menitikkan air mata.
Oh Via jangan menangis, kamu sama
saja membuatku hatiku teriris.
" kamu tau kan Albert kecelakaan
1 tahun yang lalu? "
" aku tau dan aku penyebabnya
" jawabnya yang membuat aku sedikit bingung.
" malam itu seperti ini, Albert
mengatakan padaku dya menungguku di ruang ini untuk mengatakan sesuatu padaku. Aku
yang dengan girangnya menyusul Albert ke ruang ini. Namun, kak Cantika kak Sora
kak Jo menghadangku dan menyeretku ke kamar mandi dekat aula. mereka menyekapku
kak " ceritanya sambil menangis.
Spontan aku memeluknya dan berpikir
kenapa sahabatku ikut dalam hal seperti ini.
" kak Cantik bilang padaku. aku
telah merebut kak Albert. Dan karena kak Jo pacar kak Sora dia ikut membantu
" katanya menjelaskan seakan dia tau apa yang sedang aku pikirkan tentang Jo.
Jo, sahabatku, rela melakukan hal bodoh seperti ini demi Sora. Tak habis
kupikir.
" 1 malam aku di sekap kak. Kemudian
pak Toni penjaga sekolah membuka toilet ini dan menemukanku ketika hari sudah
pagi. Seketika itu aku langsung menuju ke tempat ini. Dan kak Albert nggak ada
kak. Hanya ada surat di piano ini.
“ aku menunggumu seharian tapi kau tak datang Via. Aku mencintaimu ingin
aku mainkan lagu untukmu. kamu tau kiss the rain oleh Yiruma? ya aku sangat
menyukainya Via. ingin aku mainkan untukmu tapi mungkin kau tak mau. Maaf aku
telah mecintaiimu. “
" tangis viandra langsung membludak mengingat kejadian itu.
" dan pagi itu juga aku
mendengar kabar albert kecelakaan kak " kisah itu begitu mengharukan aku
hanyut dalam cerita Viandra yang terisak. Aku tak menyangka bahwa keduanya
sangat mencintai seperti ini.
" hari ini harusnya dia datang. Karena
1 minggu terakhir ini aku menunggunya dan meilihatnya disini. Aku jadi gila kak!
setiap hari aku selalu bicara sendiri disini. Seperti halnya aku melihat
albert. Aku hanya ingin bertemu dengan dya kak satu kali saja dan aku ingin
kataka aku cinta padanya " viandra menangis dan begitu erat mendekapku.
Oh via jangan menangis kumohon,
kuatkanlah dirimu Viandra. Aku menatapnya bola mata itu menatapku dengan sendu
" besok pulang sekolah datanglah
kesini. akan kupastikan dya disini "kataku sekenanya. Aku tak tau apa yang
sedang aku katakan yang aku tau aku ingin menghiburnya. Padahal aku tak tau
bagaimana caranya mengembalikan Albert kesini jelas itu mustahil.
.....
Hari ini hari dimana aku harus
mengembalikan Albert. mungkin seperti inilah caranya dengan berpakaian yang
mirip dengan cara berpakaian Albert. Albert biasanya yang selalu rapi dengan
kacamatanya yang menghiasi matanya. sekilas albert memang mirip Afgan tapi
albert jauh lebih putih dari Afgan karena kulitnya yang keturunan Australia. Tak
lupa aku memainkan lagu kiss the rain lagu yang akan dilantukan oleh Albert.
Tak sulit bagiku, karena memang aku
sudah terbiasa dengan alat musik mulai dari gitar, drum, piano bahkan menyanyi.
Perlahan aku dentingkan piano ini perlahan mengalun lembut seakan aku masuk ke
dalam kejadian ketika Albert ingin menemui Viandra. Entahlah jantungku terasa
berpacu dengan cepat.
tok tok tok suara langkah kaki itu
mendekat dan klik dia membuka pintu.
" Albert " sapanya bergetar
Aku terus melantunkan lagi itu hingga
dia berjalan perlahan menghampiriku dengan terisak.
" apa ini beneran kamu Albert ?.
maafkan aku Albert " katanya mendekat padaku. sedetik kemudian aku
menghentikan alunan ku dan menghadapnya aku mencintaimu Viandra.
" aku juga mencintaimu Albert
" jawabnya sambil memeluk aku.
Seandainya dia mengatakan itu untukku
bukan untuk Albert betapa bahagianya hatiku. Namun, yang diliatnya sekarang
bukan Daniel tapi aku sebagai Albert. Kemudian dia tersadar dan melepaskan pelukannya.
" kak Daniel ? " jawabnya
sambil menatapku
" ya Via, ini aku Daniel. Beginilah
caraku untuk memutar kejadian masa lalu " jawabku sambil menyunggingkan
senyum terindahku.
" terima kasih kak Daniel. Dengan
begini aku lega. Bahkan aku tau Albert juga melihatnya sekarang " jawabnya
sambil memelukku kembali.
Albert begitu beruntung sempat
mencintai gadis ini. Aku mengetahui dia sangat mencintai Viandra ketika dya
sedang berjalan denganku menuju kelas musik ini. Betapa bahagianya dia
menceritakan Viandra betapa matanya berbinar ketika melihatnya. Dan aku bisa
menebak dia sangat mencintainya. Saat itu aku tak terlalu memperhatikan sosok
idaman Albert, karena ketika itu aku sangat mencintai Cantika.
Viandra aku juga menyukaimu batinku
dalam hati.
" terima kasih ya kak, Viandra
harus pulang " dia membalikkan badannya dan akan meninggalkanku.
" aku mencintaimu Viandra bukan
sebagai Albert tapi sebagai Daniel " kataku perlahan namun pasti.
Viandra langsung menghentikan
langkahnya dan menyunggingkan senyum padaku. senyum itu penuh misteri dan kali
ini aku tak tau artinya.
.....
Pagi yang cerah dengan berbalut
pakaian warna hitam yang menandakan duka. Aku berjalan perlahan menghindari
pusara - pusara agar tidak terinjak dan sampailah aku pada satu nama pusara
" Albertus Carloes "
" hay Bert, maaf aku baru datang
kesini, maaf aku sempat iri padamu ketika kau masih hidup, maaf aku telah
menertawakanmu ketika kau meninggal, dan maaf aku telah mengambil Viandra
darimu. Tapi percayalah aku akan menjaganya seperti halnya kau akan menjaganya
ketika kau bercerita padaku. Aku akan membahagiakannya seperti halnya dirimu
membuat dirinya tersenyum. Percayalah padaku Albert aku tak akan menyia-nyiakan
orang yang engkau cintai. Akan aku jaga Viandra sampai dia kembali kepadamu dan
berada disisi Tuhan. " aku mengatakan hal yang tulus dari hatiku. Tak
pernah aku berucap setulus ini. dengan masih menggemgam tangan Viandra aku
meninggalkan pusara Albert.
Viandra menerima cintaku setelah ia
tersenyum dan menghampiriku.
“ aku juga mencintaimu kak Daniel “ katanya
dengan memelukku.
