Pages

Sabtu, 29 Maret 2014

Denting Piano

         denting itu aku mendengarnya kembali. Denting nada yang mengalun indah dengan sang pagi. Aku mengikuti arah denting nada itu. Lagi-lagi nada itu menghilang ketika aku mencapai gagang pintu ruang musik ini. Ya ruangan ini memang digunakan untuk beberapa siswa yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler musik. Aku sendiri sering berada disini. Namun, aku tak pernah mendengar denting nada itu semenjak 1 minggu lalu hingga sekarang ini. Aku curiga apa kelas ini memiliki penunggu yang suka dengan nada - nada piano? seketika bulu kudukku merinding memikirkannya. Cepat-cepat aku menjauh dari pintu itu dan menuju kelasku.

" hey daniel. ngapain kamu ada disini? kita bakalan masuk bro 5 menit lagi. " sapa temanku yang mengagetkanku, ketika aku akan berbalik menjauh dari pintu itu.
Aku Daniel Dirgantara murid kelas 12 SMA Harapan. Dan temanku yang memamnggilku adalah Jo. Teman dekatku bahkan telah aku anggap saudara sendiri. Ya, kami berteman ketika kami masih sama - sama memakai seragam merah putih.
" biasa bro. kayak nggak tau aja lu bro " jawab ku sekenanya. ingin aku katakan pada jo tentang denting nada misterius itu. Namun, aku takut Jo malah meledekku terlalu penakut. Lalu aku menjauh dari pintu itu.
.......
" syukurlah " kata gadis oriental ini yang memiliki rambut hitam panjang dengan poni sedikit menutupi matanya.
" albert  kamu dimana sih! aku takut ada orang tau aku sedang menunggumu disini. " kata gadis cantik ini sedikit sedih sambil memencet nada – nada piano.
Namun, albert tak juga datang hingga akhirnya membuat cewek ini jenuh dan meninggalkan kelas musik dengan sedikit mengendap-endap.
........
" maaf " kata gadis berponi ini kepadaku.
Padahal sebenarnya aku yang tak sengaja menabraknya. Namun, justru Viandra lah yang meminta maaf kepadaku. Gadis berponi berwajah oriental ini Viandra adik kelasku di SMA Harapan ini. Aku mengenalnya karena dia satu ektrakurikuler denganku. Sifatnya yang pendiam dan sedikit misterius membuat dia sedikit tidak disukai sehingga jarang ada orang yg mau berteman dengannya. Setahuku selama ini yang dekat dengan dia adalah Albert.
" gak seharusnya kamu kali' Via yang minta maaf. aku yang salah. aku jalan gak liat - liat sih jadi nabrak kamu kan " jawabku sedikit menenangkan Viandra.
" Viandra yang salah kak Daniel " katanya dengan sedikit menunduk.
Beginilah Viandra dia terlalu polos menjadi gadis. Hingga terkadang ia malah menjadi objek bully'an oleh kakak kelas ekskul padahal kemampuannya bermain piano tak bisa diragukan.
" iya deh kamu yang salah " jawabku yang sedikit bercanda.
" jadi beneran Viandra ya yg slah kak Daniel? " jawab dia sambil menatapku dengan sedikit membelalakkan matanya.
Namun kesan polos masih saja menghinggapinya. Ah wajah itu dengan mata nya yang sipit yang berusaha ia bulatkan, membuatku terpana sejenak. tatapannya yang lembut bahkan polosnya dia seakan menghentikan jantungku. Sebelum hal ini terjadi aku membuang muka.
" udahlah Via, hal kecik kayak gini kamu bahas. Mau kemana kamu? " tanyaku sambil sedikit salah tingkah.
" ini mau ke perpustakaan kak ngembaliin buku " jawabnya sambil sedikit menunduk. seandainya Viandra tak banyak menunduk dan sedikit terbuka, mungkin akan banyak cowok yang suka padanya.
" oke deh see you ya. aku mah mau ke kantin. "
" iya kak " kata dia berlalu meninggalkanku.
" hey via. jangan lupa nanti sore kumpul ya " kataku sedikit berteriak. Langkah Viandra terhenti dan menengok padaku sambil menyunggingkan senyumnya yang aku artikan  ia menjawab " iya "
......
Sial! lagi - lagi aku mendengar denting nada piano itu lagi. Siapa sih yang memainkannya di saat jam istirahat seperti ini. Kelas musik kami memang terletak sangat jauh. Di lantai 2 yang berdampingan dengan aula. Sehingga kelas musik ini sangat jarang sekali tersentuh.
Perlahan aku mengintip, sial! jendelanya tertutup dengan gorden. Perlahan aku membuka pintu.
" kosong! gak mungkin! " kataku sedikit terkejut.
Bagaimana bisa ruangan ini kosong padahal jelas - jelas denting piano tadi berasal dari arah sini. Mungkin pikiranku yang sudah enggak waras pikirku. Lagi - lagi bulu kudukku berdiri. Seketika itu tiba-tiba aku merasakan ada yg mendekat dan menepukku
" hey bro. ngapain lu disini? nggak takut sama penghuni kelas musik ini lu bro " kata Jo mengagetkanku
" lu sendiri ngapain kesini. gue mah nggak pernah takut hal begituan " jawabku dengan sedikit menjotos dadanya karena telah mengagetkanku.
" tapi tempat ini bener-bener serem bro. beberapa anak denger suara denting piano tapi ketika dibuka malah gak ada siapa - siapa "
Deg seketika jantungku berhenti. ternyata firasatku benar ternyata memang penunggu kelas ini lah yang memainkannya.
" apa hantu dia ya bro " kata Jo membuyarkan lamunanku.
" nggak mungkin lah bro. dia sudah tenang dialam sana bro" jawabku dengan sedikit memikirkan kata - kata Jo apa mungkin dya.
......
" untunglah albert mereka tidak melihat kita " kata Viandra ketika Daniel dan Jo berhasil menjauh dari pintu kelas musik.
Viandra lalu menjauh dari kelas itu sambil menutup pintu perlahan sambil memandang seseorang
" kamu nggak ikut masuk ke kelas? " kata Viandra. Sebelum Viandra memberikan kesempatan seseorang tersebut menjawab, ia menutup pintu dan menjauh dengan perasaan yang begitu senang.
.....
Malam ini malam puncak perayaan ulang tahun sekolah kami. Dengan tema sedikit glamour, banyak sekali siswa - siswi yang menyulap dirinya seperti kaum sosialita. Ya, memang sekolah kami adalah salah satu sekolah ternama di kota ini dengan kebanyakan wajah - wajah oriental seperti ku ini. nggak ke-PD’an sih aku memang keturunan chinese dengan bola mata coklat dengan tatanan rambut sedikit mirip suju. Jadi tak heran jika sekolah kami banyak sekali siswa - siswi yang berkelas atas.
Namun, hal ini yang buat aku nggak suka. Rasa iri satu sama lain begitu besar terlebih untuk para kaum hawa. Mereka selalu ingin jadi yang lebih baik. Ketika ada yang lebih dari dia maka tak segan - segan mereka melakukan hal yang aneh seperti halnya melabrak tanpa sebab. Aku menatap di kejauhan, gadis itu gadis pujaanku dulu masih cantik sampai sekarang seperti namanya Cantika Lestari. Dia gadis yang aku kagumi ketika kita masih kelas 11. Tapi dia lebih suka dengan Albert. Padahal Albert tak jauh lebih ganteng daripada aku. Dia memang keturunan Australia menurutku dia biasa - biasa aja.
Rasa mengagumi itu masih ada tapi sudah bukan cinta. Kelakuannya yang buruk. yang banyak digosipkan oleh beberapa orang membuatku ilfil dan enggan dekat-dekat dengan dia lagi toh dya juga tak pernah punya perasaan dengan ku.
" hay Daniel " sapanya membuyarkan lamunanku.
" hay Cantik " jawabku sambil menyunggingkan senyum terbaikku.
" ngapain lu ngelamun gak jelas Niel " kata Sora sahabat yang selalu bersama Cantik.
Mereka berdua selalu bersama - sama. Sifat Cantik yang begitu anggun berbeda jauh dengan sifat Sora yang sedikit tomboy. Sora adalah mantan sahabat terbaikku Jo ketika mereka masih berada di kelas 11.
" gue lagi bete disini " jawab ku sekenanya dengan meninggalkan mereka berdua dengan sedikit menjauh dari kebisingan.
Kemana lagi aku menjauh kalau bukan ke kelas musik. ingin aku memainkan piano hari ini.
Deg lagi-lagi suara itu berbunyi. Sial! kenapa malem - malem gini gue kesini sih. Dengan sedikit keberanian aku buka pintu itu. Lagi - lagi tidak ada orang di dalam sini.
Ruangan ini begitu gelap. Hanya ada 1 lilin diatas piano. Padahal aku ingat benar nggak pernah ada yang kesini. Dan lilin itu masih baru. Yang aku herankan kembali, kenapa dia memilih lilin daripada lampu.
Lampu, kemana saja pikiranku. Langsung aku menekan saklar dan ruangan itu terang. Tidak ada siapa - siapa pikirku. Tapi aku yakin ini bukan hantu mana mungkin hantu bisa menghidupkan  lilin. Aku mendekat ke arah piano.
Tanpa disadari aku melihat sosok gadis bergaun putih selutut melompat dari tempat persembunyiaanya dan sedikit berteriak.
" arrgghh tikut " kata gadis itu melompat menjauh tanpa menyadari aku masih mengamatinya.
" Viandra ngapain kamu disini ? " tanyaku.
Gadis itu memang Viandra. Jadi selama ini pemain denting piano itu Viandra. Jelas saja suara piano itu begitu indah. Tapi kenapa dia sembunyi ketika aku melihatnya ?. Gadis ini memang penuh dengan misteri.
" aa aaku  nungguin Albert " katanya sedikit menunduk tanpa berani memandangku.
Kemudiaan aku mendekat dan mendongakkan wajahnya.
Lagi - lagi mata itu begitu tulus, aku jatuh cinta padanya.
" Albert? dya gak bakalan datang Via " jawabku sedikit emosi. Bagaimana tidak dua orang yang aku cintai jatuh cinta dengan Albert yang menurutku biasa - biasa saja.
" dya pasti dateng kak " jawabnya dengan menitikkan air mata.
Oh Via jangan menangis, kamu sama saja membuatku hatiku teriris.
" kamu tau kan Albert kecelakaan 1 tahun yang lalu? "
" aku tau dan aku penyebabnya " jawabnya yang membuat aku sedikit bingung.
" malam itu seperti ini, Albert mengatakan padaku dya menungguku di ruang ini untuk mengatakan sesuatu padaku. Aku yang dengan girangnya menyusul Albert ke ruang ini. Namun, kak Cantika kak Sora kak Jo menghadangku dan menyeretku ke kamar mandi dekat aula. mereka menyekapku kak " ceritanya sambil menangis.
Spontan aku memeluknya dan berpikir kenapa sahabatku ikut dalam hal seperti ini.
" kak Cantik bilang padaku. aku telah merebut kak Albert. Dan karena kak Jo pacar kak Sora dia ikut membantu " katanya menjelaskan seakan dia tau apa yang sedang aku pikirkan tentang Jo. Jo, sahabatku, rela melakukan hal bodoh seperti ini demi Sora. Tak habis kupikir.
" 1 malam aku di sekap kak. Kemudian pak Toni penjaga sekolah membuka toilet ini dan menemukanku ketika hari sudah pagi. Seketika itu aku langsung menuju ke tempat ini. Dan kak Albert nggak ada kak. Hanya ada surat di piano ini.
“ aku menunggumu seharian tapi kau tak datang Via. Aku mencintaimu ingin aku mainkan lagu untukmu. kamu tau kiss the rain oleh Yiruma? ya aku sangat menyukainya Via. ingin aku mainkan untukmu tapi mungkin kau tak mau. Maaf aku telah mecintaiimu. “ " tangis viandra langsung membludak mengingat kejadian itu.
" dan pagi itu juga aku mendengar kabar albert kecelakaan kak " kisah itu begitu mengharukan aku hanyut dalam cerita Viandra yang terisak. Aku tak menyangka bahwa keduanya sangat mencintai seperti ini.
" hari ini harusnya dia datang. Karena 1 minggu terakhir ini aku menunggunya dan meilihatnya disini. Aku jadi gila kak! setiap hari aku selalu bicara sendiri disini. Seperti halnya aku melihat albert. Aku hanya ingin bertemu dengan dya kak satu kali saja dan aku ingin kataka aku cinta padanya " viandra menangis dan begitu erat mendekapku.
Oh via jangan menangis kumohon, kuatkanlah dirimu Viandra. Aku menatapnya bola mata itu menatapku dengan sendu
" besok pulang sekolah datanglah kesini. akan kupastikan dya disini "kataku sekenanya. Aku tak tau apa yang sedang aku katakan yang aku tau aku ingin menghiburnya. Padahal aku tak tau bagaimana caranya mengembalikan Albert kesini jelas itu mustahil.
.....
Hari ini hari dimana aku harus mengembalikan Albert. mungkin seperti inilah caranya dengan berpakaian yang mirip dengan cara berpakaian Albert. Albert biasanya yang selalu rapi dengan kacamatanya yang menghiasi matanya. sekilas albert memang mirip Afgan tapi albert jauh lebih putih dari Afgan karena kulitnya yang keturunan Australia. Tak lupa aku memainkan lagu kiss the rain lagu yang akan dilantukan oleh Albert.
Tak sulit bagiku, karena memang aku sudah terbiasa dengan alat musik mulai dari gitar, drum, piano bahkan menyanyi. Perlahan aku dentingkan piano ini perlahan mengalun lembut seakan aku masuk ke dalam kejadian ketika Albert ingin menemui Viandra. Entahlah jantungku terasa berpacu dengan cepat.
tok tok tok suara langkah kaki itu mendekat dan klik dia membuka pintu.
" Albert " sapanya bergetar
Aku terus melantunkan lagi itu hingga dia berjalan perlahan menghampiriku dengan terisak.
" apa ini beneran kamu Albert ?. maafkan aku Albert " katanya mendekat padaku. sedetik kemudian aku menghentikan alunan ku dan menghadapnya aku mencintaimu Viandra.
" aku juga mencintaimu Albert " jawabnya sambil memeluk aku.
Seandainya dia mengatakan itu untukku bukan untuk Albert betapa bahagianya hatiku. Namun, yang diliatnya sekarang bukan Daniel tapi aku sebagai Albert. Kemudian dia tersadar dan melepaskan pelukannya.
" kak Daniel ? " jawabnya sambil menatapku
" ya Via, ini aku Daniel. Beginilah caraku untuk memutar kejadian masa lalu " jawabku sambil menyunggingkan senyum terindahku.
" terima kasih kak Daniel. Dengan begini aku lega. Bahkan aku tau Albert juga melihatnya sekarang " jawabnya sambil memelukku kembali.
Albert begitu beruntung sempat mencintai gadis ini. Aku mengetahui dia sangat mencintai Viandra ketika dya sedang berjalan denganku menuju kelas musik ini. Betapa bahagianya dia menceritakan Viandra betapa matanya berbinar ketika melihatnya. Dan aku bisa menebak dia sangat mencintainya. Saat itu aku tak terlalu memperhatikan sosok idaman Albert, karena ketika itu aku sangat mencintai Cantika.
Viandra aku juga menyukaimu batinku dalam hati.
" terima kasih ya kak, Viandra harus pulang " dia membalikkan badannya dan akan meninggalkanku.
" aku mencintaimu Viandra bukan sebagai Albert tapi sebagai Daniel " kataku perlahan namun pasti.
Viandra langsung menghentikan langkahnya dan menyunggingkan senyum padaku. senyum itu penuh misteri dan kali ini aku tak tau artinya.
.....
Pagi yang cerah dengan berbalut pakaian warna hitam yang menandakan duka. Aku berjalan perlahan menghindari pusara - pusara agar tidak terinjak dan sampailah aku pada satu nama pusara " Albertus Carloes "
" hay Bert, maaf aku baru datang kesini, maaf aku sempat iri padamu ketika kau masih hidup, maaf aku telah menertawakanmu ketika kau meninggal, dan maaf aku telah mengambil Viandra darimu. Tapi percayalah aku akan menjaganya seperti halnya kau akan menjaganya ketika kau bercerita padaku. Aku akan membahagiakannya seperti halnya dirimu membuat dirinya tersenyum. Percayalah padaku Albert aku tak akan menyia-nyiakan orang yang engkau cintai. Akan aku jaga Viandra sampai dia kembali kepadamu dan berada disisi Tuhan. " aku mengatakan hal yang tulus dari hatiku. Tak pernah aku berucap setulus ini. dengan masih menggemgam tangan Viandra aku meninggalkan pusara Albert.
Viandra menerima cintaku setelah ia tersenyum dan menghampiriku.
“ aku juga mencintaimu kak Daniel “ katanya dengan memelukku. 

Kamis, 24 Januari 2013

perpisahan


"Ketika TUHAN mengambil seseorang yang kau cintai, maka TUHAN akan menggantinya dengan seseorang baru yang suatu saat akan lebih kau cinta."

Perpisahan itu selalu hadir disaat kita belum siap kehilangan seseorang. Saat kita masih sangat mencintai seseorang. Dan, saat kita masih membutuhkan orang itu dalam banyak hal. Kenyataan terburuk yang harus kita terima adalah orang yang kita cintai itu akan hilang, untuk sementara atau mungkin selamanya.

Pernahkah terpikir dalam benak kalian? Bahwa perpisahan adalah akibat dari sebuah pertemuan. Pertemuan yang terencana, yang telah disiapkan oleh Tuhan agar kita bertemu dengan seorang mahluk ciptaanNYA. Setiap pertemuan pasti menghasilkan rasa. Entah rasa tertarik, rasa benci, rasa mencintai, rasa ingin melindungi, termasuk rasa takut kehilangan. Kenyataan terburuk yang harus kita ketahui dari sebuah pertemuan adalah sesuatu yang tak kita duga, bahwapertemuan sebenarnya adalah kata selamat tinggal yang belum terucapkan. Terkadang, mereka yang memutuskan untuk saling pisah adalah mereka yang masih saling jatuh cinta.

Perpisahan pasti dialami oleh setiap orang. Entah saya, kamu, kita, dan mereka. Saya pernah mengalami perpisahan dengan seseorang atau banyak orang yang saya cintai, kalian pun juga pasti pernah merasakan hal yang sama. Ketika perpisahan membuat suatu pribadi jatuh di titik terlemahnya, ketika perpisahan menjadikan seseorang tak mampu lagi untuk berdiri, hanya ada satu kata yang ingin kita ucapkan kepada dia yang telah pergi yaitu "KEMBALILAH!"

Yang belum pernah terpikirkan dari suatu perpisahan adalah akan ada sebuah pertemuan lagi yang akan menyadarkan kita, bahwa kehilangan adalah tanda kita segera menemukan. Menemukan hal baru yang belum pernah kita temukan. Bertemu dengan seseorang yang belum pernah kita temui. Berkenalan dengan suatu pribadi yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Di luar sana, perpisahan didefinisikan dalam berbagai hal. Ada yang mendefinisikan bahwa perpisahan adalah akhir hidup dan ada juga yang mendefinisikan bahwa perpisahan adalah awal perjumpaan. Bagaimana dengan kalian? Apakah perpisahan masih menjadi alasan kita untuk menangis semalaman? Apakah perpisahan masih menjadi alasan kita untuk menutup diri dan menutup hati dari orang-orang baru yang berusaha masuk dalam hidup kita?

Bagaimanapun jawaban kalian, ketahuilah perpisahan itu sama seperti aksi reaksi. Terjadi lalu menyebabkan akibat. Perpisahan adalah bagian dari rencana Tuhan untuk membuat kita lebih dewasa. Percayalah, Tuhan melihat kita dari jarak yang tidak kita ketahui, dalam tanganNYA, DIA telah merancang rencana khusus untuk saya dan anda. DIA itu Maha Adil. Ketika DIA mengambil "emas" yang kita miliki, maka DIA akan menggantinya dengan "berlian". "Ketika DIA mengambil seseorang yang kau cintai, maka DIA akan menggantinya dengan seseorang baru yang suatu saat akan lebih kau cinta."

diambil dari dwitasarii.blogspot.com

Your secret


Tak terasa embun pagi telah membasahi keringnya dunia ini. Rembulan telah berganti pancaran mentari. Pagi telah menjelang.
Dengan masih bosan Feby, gadis tunggal yang baru menginjak umur 17 tahun harus terbangun dari indahnya sang mimpi.
Setengah sadar Feby langsung menuju kamar mandi. 30 menit telah berlalu Feby telah rapi dengan seragam putih abu-abunya. Hari ini adalah awal dimana Feby memasuki level terakhir dalam jenjang sekolah menengah. Ya, Feby baru saja memasuki kelas 12 dan ini di mulai dari hari ini.
Dengan perasaan gundah Feby menuju meja makan untuk menyantap masakan sang mama.
“ Feby… pagi – pagi kok udah gak bersemangat gitu ? “ Tanya mama Feby sambil meletakkan nasi goreng di atas meja makan.
“ iya ni ma… Feby takut. Feby takut gak punya temen di kelas 12 ini ma. Kan mama juga tau Feby di kelas itu sendirian. Sahabat – sahabat Feby kan pada di kelas lain ma. “ jawab Feby sambil meletakkan pantatnya di atas kursi .
“ percaya deh Feb. pasti kamu bakalan punya temen baru. Yang gak kalah serunya dengan sahabat – sahabat kamu “ jawab papa Feby yang ada di seberang meja makan.
“ dengerin tu kata papa kamu. Kamu gak usah khawatir gak punya temen. Pasti anak mama ini dapat temen yang seru “ jawab mama Feby.
Sunyi sudah keadaan meja makan itu, semuanya sibuk melahap makanan mereka masing – masing.
Ω
Feby melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang sangat asing bagi dirinya. Feby memasuki kelas barunya kelas 12 ipa 1. Dengan menghela nafas panjang, Feby memasuki kelas itu yang masih sunyi senyap, namun Feby terkejut saat di belakang sebelah kiri terdapat sesosok lelaki yang duduk sambil membaca sebuah buku. Feby langsung terkejut, ia mengira kalau kelas ini masih kosong. Tapi firasatnya salah, cowok tersebutlah yang pertama memasuki kelas tersebut. dia cowok bukan hantu karena Feby masih sempat melirik kaki cowok tersebut. dan kaki tersebut masih menyentuh lantai.
Feby pun langsung melangkahkan kakinya menuju bangku paling depan. Feby memang  memiliki masalah pada matanya. Sehingga ia enggan apabila ia harus duduk di bangku paling belakang. Karena hal itulah, Feby harus rela datang pagi – pagi demi mendapatkan urutan bangku paling depan. Feby pun langsung menaruh tas pinknya. Sejenak ia bingung dengan keadaan kelas tersebut. kelas ini masih kosong padahal waktu telah menunjukkan pukul 06.15. padahal tepat 06.30 pelajaran akan segera di mulai. Tiba – tiba ia menoleh ke belakang, tepat dimana cowok itu duduk dengan seriusnya bahkan masih dengan wajah menunduk. Feby heran, dalam hatinya berkata “ ini cowok setan apa manusia sih “
Tiba – tiba Feby terkejut saat ada tangan yang memegang pundaknya. Sontak ia langsung memalingkan wajahnya.
“ hey… nggak usah kaget gitu kali’, kenalin nama aku Ira. Kamu? “ Tanya gadis yang berkuncir kuda itu sambil mengulurkan tangannya.
“ eh iya maaf. Nama aku Feby. Salam kenal ya “ sambut Feby dengan senyum hangatnya.
“ boleh aku duduk di sini ? “ Tanya gadis yang mengaku namanya ira itu pada Feby.
“ ya bolehlah. Udah sini aja “
Ira pun langsung menaruh tasnya pada bangku kosong yang disamping Feby. Sejenak Feby melupakan cowok yang di pojok itu. Feby pun larut dengan candaan ringan yang ia obrolkan dengan Ira teman barunya.
Bel masuk pun telah berbunyi. Semua murid pun memasuki kelas. Bangku kosong – kosong itu pun telah terisi. Bahkan kelas yang kosong itu pun telah terlihat ramai bahkan gaduh. Terkecuali bangku kosong di sebelah cowok yang di tatap Feby tadi pagi. Disana masih kosong. Seakan – akan bangku itu mempunyai kutukan bagi siapa saja yang duduk disana. Feby pun melirik ke bangku belakang itu kembali. Masih, cowok itu masih sama seperti apa yang di tatap Feby tadi pagi. Ia tidak berubah. Ia masih menundukkan kepalanya. Feby pun menjadi sedikit agak merinding melihat itu cowok. Apa penglihatan Feby yang salah. Bahwa itu cowok bukan manusia melainkan penunggu kelas 12 ipa 1.
 Feby pun langsung bertanya pada Ira.
“ ra, kamu liat kan yang di pojok sana ? “ Tanya Feby dengan muka sedikit agak gemetaran.
“ siapa? Yang mana? Yang duduk itu ? iya lah aku lihat. Tenang saja mata kamu masih normal kok. Dya memang manusia kok Feb. “ Ira pun seolah tau apa yang di rasakan oleh Feby.
“ masa’ kamu gak pernah tau dya sih? Kan kamu udah 2 taon di sma ini. Tapi wajar sih kalau kamu nggak tau. Dya memang gak ada yang pernah tau. Dya hidup sendiri seolah – olah gak butuh kita. Manusia menyebalkan! Aku saja yang temen sekelasnya males kenal sama dya. Baru aja mau nanya ini, eh aku takut duluan gara – gara tatapannya yang seakan mau membunuh itu “ jelas Ira
Feby pun langsung diam mendengarkan penjelasan Ira. Tapi ia pun berpikir sejenak. Tiba – tiba ia bicara dalam hati “ gak mungkin ada orang diem nya super diem. Pasti dya punya alasan kenapa ia bersikap aneh seperti itu “
Tiba – tiba lamunan Feby buyar ketika Ira meneriakki telinganya.
“ Feb! kamu ngelamun ? kantin yuk. Gak ada guru ni. “
Feby pun membalas dengan senyuman lalu menganggukkan kepalanya tanda ia mengiyakan ajakan Ira.
Ω
Begitu ramai kantin yang mereka berdua masuki. Namun Feby tak menghiraukannya. Ia masih mendongakkan kepalanya. Seakan ia mencari seseorang yang menghilang dari genggamannya. Padahal Ira dekat dengan Feby. Bahkan sangat – sangat dekat.
“ hey. Kamu nyariin siapa sih ? “ Tanya Ira heran saat melihat Feby kebingungan.
“ eh enggak kok. “ jawab Feby tetap masih dengan wajah yang penuh pertanyaan.
Setelah mereka berdua memesan 2 bakso dan 2 jus jeruk. Mereka akhirnya dengan selamat menaruhkan  pantat mereka di kursi kantin yang mereka perebutkan dengan segala pengorbanan.
10 menit telah berlalu, tiba  sudah pesanan mereka berdua. Mereka berdua pun menyantap makanan rakyat ini dengan sangat lahapnya. Namun tiba – tiba Feby membelalakkan matanya saat melihat sesosok bayangan di depan matanya. Ia pun menatap bayangan itu tanpa berkedip sedikitpun. Feby telah melihat sesosok bayangan yang telah sama membuat dirinya kaget pada saat pertama ia menginjakkan kakinya di kelas 12 ipa 1. Ya, tak salah lagi bayangan itu adalah cowok yang berada tepat di pojok belakang. Cowok yang membuat Feby penasaran sampai saat ini. Dengan cepat bayangan itu meninggalkan kantin yang masih sangat padat itu. Feby pun langsung sontak berdiri. Hal itu langsung membuat Ira kebingungan.
“ kamu kenapa sih ? kayak ngelihat setan aja “Tanya Ira sambil melahap baksonya.
“ hah ? enggak. Kamu tadi gak liat cowok itu ? “ jawab Feby sambil duduk kembali dan menikmati baksonya.
“ cowok yang mana ? yang di depan kita ? cowok gendut itu ? jangan bilang deh kalau kamu suka sama dya “ kata Ira sambil tertawa terbahak – bahak.
“ enak aja. Bukan Ira. Itu lho cowok yang di pojok belakang itu “
“ ooo… temen kita satu kelas itu ? namanya Alvin Feb dya itu. Kenapa ? kamu tadi lihat dya ? “
“ Alvin ? nama yang bagus. Iya aku tadi ngelihat dya beli apa gitu. Tapi dya langsung pergi gitu aja. Kayak keburu – buru gitu. “
“ itu sih udah biasa Feb. dya memang gitu. Selalu bersikap tergesa – gesa. Tempat favoritnya di taman belakang sekolah. Dya itu dingin banget. Aneh deh pokoknya. “ jelas Ira panjang lebar.
Benak Feby  pun masih mencerna setiap kata  - kata Ira. Kini Ia semakin penasaran dengan cowok yang bernama Alvin itu. Mereka berdua pun makan dengan lahapnya sampai bel masuk berbunyi.
Ω
Waktu menunjukkan pukul 19.00. tapi Feby masih sibuk dengan mengotak – atikkan keyboard laptopnya. Dya masih asyik mengerjakan sesuatu dengan menggunakan jari – jarinya. Ternyata gadis belia yang masih berumur 17 itu asyik bermessage ria bersama seseorang di ujung sana. Sampai tiba – tiba ibunya membuka pintu kamar Feby. Sontak Feby langsung memencet tombol keyboard Fn+F6 yang berfungsi membuat monitor menjadi dalam keadaan gelap untuk sementara.
“ ngapain sayang.. sibuk banget sih kelihatannya “ tegur mama Feby sambil menghampiri anaknya.
“ eh iya ma. Ini lagi nulis – nulis aja. “ jawab Feby sekenanya sambil mencoret – coret bukunya.
“ ya udah kalau gitu. Mama tinggal keluar dulu ya “ kata mama Feby sambil meninggalkan kamar putri satu – satunya itu.
“ untung mama gak liat kalau aku lagi berchatting ria dengan seseorang “ kata Feby dalam hati. Feby memang lagi bermassage ria menggunakan aplikasi yang sudah sangat popular di kalangan masyrakat. YM ( Yahoo Massanger ) salah satu aplikasi yang memang sudah pasti ada di Laptop maupun Komputer.
Salah satu Hobi Feby memang main YM. Ia tiap malam selalu membuka YM. Tetapi itu pun ia lakukan kalau ia tidak memiliki tugas yang harus dikerjakan. Apa lagi di seberang sana ada sesosok cowok yang menemaninya. Nick cowok itu di YM “ Secret Admire “. Unik menurut Feby. Tiap malam Feby selalu bercerita segala aktivitasnya kepada ini cowok. Padahal, tak satu kalipun mereka berdua pernah bertemu. Bahkan mereka berdua pun tak pernah mengetahui nama asli mereka masing – masing. Karena mereka berdua memang sengaja melakukan hal itu. Agar suatu saat  bisa menjadi kejutan mereka berdua.
Ω
Pagi telah menjelang. Sekali lagi Feby datang pagi. Tak seperti kemarin yang alasannya mencari bangku kosong di depan, melainkan Feby sekarang datang pagi karena Ia memiliki suatu tujuan. Tak lain dan tak lebih Ia ingin melihat Alvin cowok yang duduk di pojok belakang. Tak salah lagi, ketika Feby menginjakkan kakinya di kelas, ia langsung bisa melihat sosok itu yang masih tetap seperti kemarin, duduk sambil menundukkan kepalanya. Entah apa yang sebenarnya cowok itu baca. Hal ini lah yang semakin membuat Feby penasaran. Setelah ia meletakkan tas warna pinknya, ia langsung menuju ke bangku pojok belakang. Sambil sedikit gugup, ia langsung mengulurkan tangan sembari memperkenalkan diri.
“ nama aku Feby, kamu siapa ? “ Tanya Feby agak sedikit ramah.
Namun cowok itu membalas
“ Tanya yang lain aja. Pasti mereka tau nama ku. Lagian kan kemarin guru udah ngabsen, seharusnya kamu tau lah namaku. “
Plas! Wajah Feby langsung pucat pasi. Ia pun langsung meninggalkan itu cowok. Dan langsung menuju keluar entah kemana. Yang ada di pikirannya sekarang, pokoknya gimana deh caranya bisa menjauh dari itu cowok, karena ia memang telah benar – benar malu.
Ω
Selesai sudah pelajaran hari ini, semua murid bersorak riang menyambutnya. Tak kalah dengan Feby, ingin rasanya ia tiba dengan cepat di rumah.
“ huaaa… capek banget sih hari ini. Eh anterin ke toko buku yuk Feb “ Tanya Ira sambil memasukkan buku – bukunya ke dalam tas.
“ hah?? Gimana ya?? “ jawab Feby
“ ayolah Feb. sekali ini aja. Please…. “ seru Ira sambil memohon.
Feby pun langsung menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia terpaksa mengikuti ajakan Ira, tetapi bagaimana lagi. Ia baru dapat temen di kelas ini, masa’ iya sih dya harus kehilangan temannya hanya gara – gara masalah sepele seperti ini.
Feby dan Ira pun memasuki toko buku yang cukup besar. Mereka berdua pun berpisah. Seketika itu juga, Feby melihat Alvin. Gak salah lagi ia melihat Alvin sedang memilih buku. Timbul lagi perasaan penasaran Feby pada cowok tersebut. ingin rasanya Ia menghampiri cowok tersebut. namun buru – buru Alvin meninggalkan tempat tersebut sambil memasang topi yang ada pada jaketnya.
“ eh Feb. aku udah dapet ni bukunya. Pulang yuk  “ kata Ira mengejutkan Feby.
“ eh iya. Ayo kita pulang. Udah dapat kan bukunya “
“ oke “
Ω
Hey Secret Admire….
Aku ma cerita ni. Tadi aku ketemu cowok itu lagi. Yang aku ceritain sama kamu kemarin itu lho….
Tapi sayang, dya buru – buru banget. Semakin penasaran ni aku sama dya.
Ternyata Feby sedang asyik ber YM ria dengan nick Secret Admire. Tanpa di sangka, Feby selalu menceritakan cowok yang selalu membuat Ia penasaran. Tanpa menyebutkan nama si Cowok tersebut.
Hmmm…
Penasaran apa jatuh cinta ni ?? hahahahah
Kenapa gak kamu coba lagi untuk berkenalan. Kalau dya galak, kamu harus lebih galak dong.
Ternyata tak lain dengan Feby, Secret Admire pun sudah merasa akrab sama sekali sama Feby. Bahkan ia selalu menceritakan kejadian yang ia alami.
Tepat ketika Feby mau membalas, tiba – tiba mamanya telah memegang gagang pintu, dan hampir saja membukanya. Sontak Feby langsung kaget dan buru – buru mematikan laptopnya. Feby buru – buru mematikan laptopnya, karena jam dinding Feby telah menunjukkan pukul 21.15. pukul segitu memang merupakan jam tidur Feby, dan mamanya pun selalu mengecek kondisi kamar anak tunggalnya ini. Tepat saat mama Feby membuka pintu kamar Feby, Feby telah memejamkan matanya. Lebih tepatnya  Ia telah  pura – pura tidur. Setelah mama Feby pergi meninggalkan kamar Feby, Feby pun dapat bernapas dengan lega.
Ω
Seperti biasa Feby telah tiba di kelas dengan paginya. Entah mengapa akhir – akhir ini Feby selalu merasa ingin datang pagi. Bahkan mengalahkan itu cowok. Tapi ternyata Feby salah, Ia masih lebih kalah dengan cowok di pojok itu. Feby pun dengan malasnya meletakkan tas pinknya di bangkunya. Namun baru saja ia meletakkan tasnya, tiba – tiba cowok itu menghampiri Feby.
“ ini aku dapat pengumuman dari salah satu guru. Kamu aja yang nyampeiin pengumuman ini ke temen – temen. Aku malas. “ kata Alvin tanpa ekspresi sekalipun, Setelah mengatakan hal itu, Alvin pun langsung berlalu meninggalkan Feby yang masih bengong dengan bego’nya.
Feby pun merutuk dalam hati “ bisa sopan gak sih ni cowok, minta tolong dulu kek, bilang terima kasih atau apalah. Dasar menyebalkan ! “
Feby pun langsung membaca pengumuman yang Alvin berikan, ternyata pengumuman itu menjelaskan bahwa dalam rangka bulan bahasa di adakan lomba membuat cerpen tingkat kabupaten yang di ikuti oleh peserta SMA kelas 10, 11, dan 12. 
Feby semakin heran, mengapa Alvin tak membagikan pengumuman itu sendiri kepada teman – teman. Tetapi mengapa malah memberikan pada Feby. Sungguh aneh menurut Feby. Feby kini semakin penasaran terhadap cowok yang bernama Alvin ini.
Ketika kelas telah ramai oleh para penghuni kelas 12 ipa 1, Feby pun langsung meneriakkan pengumuman yang ia peroleh dari Alvin. Suara Feby Nampak lantang membacakan pengumuman itu. Tiba – tiba Feby melihat ke pojok, entah mengapa ternyata Alvin memperhatikan dirinya. Namun, secara tiba – tiba Alvin langsung memalingkan mukanya ketika ia harus bertatapan mata dengan Feby. Tak hanya Alvin, Feby pun merasa aneh, spontan ia juga langsung memalingkan mukanya.
Ω
            Kelas 12 ipa 1 nampak lengang, karena penghuni kelas ini telah bnerhambur berlari keluar kelas untuk menuju rumah mereka masing – masing. Tetapi, ketika Feby akan keluar dari kelasnya, tiba – tiba ia terkejut saat ada yang memanggil namanya.
            “ feb… kamu pulang sama sapa ? “ Tanya suara itu yang ternyata seorang cowok.
            “ aku di jemput papa “ jawab Feby
            “ boleh aku antar ? “ Tanya cowok yang ternyata Alvin
            Hal ini membuat Feby terkejut, bahkan ia tak bisa bicara, ia hanya mampu menganggukkan kepalanya. Ia heran, bagaimana cowok sependiam dan sedingin Alvin, bisa bicara dengan dirinya.
            Feby pun mengikuti Alvin di belakanganya, Alvin begitu cepat berjalan. Bahkan ia lupa dengan Feby. Feby pun merasa jengkel dengan Alvin. Tak sadar ia menendang batu, namun, ternyata itu batu terlempar mengenai kaki Alvin.
            “ kenapa ? “ Tanya Alvin heran
            “ ya kamu itu yang kenapa ? rumah ku tu jauh… kalau jalan kaki bisa gempor “ jawab  Feby dengan judes.
            Ternyata benar, ternyata mereka berdua telah jauh meninggalkan sekolah.
            “ iya.. tu udah di depan parkirannya “
            Feby menjadi heran, “parkiran? Bukannya di sekolah ada parkiran ? kenapa harus milih rumah orang buat di jadiin parkiran ?” kata Feby dalam hati.
            Ternyata Alvin memarkirkan mobilnya di rumah orang tersebut. lagi – lagi Feby di buat penasaran oleh Alvin.
            “ udah ayok masuk “ kata Alvin sambil membukakan pintu untuk Feby.
Ω
            Di sepanjang jalan Feby hanya diam, ia masih bingung akan Alvin. Mulai dari sikap sampai perlakuannya hari ini kepada dirinya.
            “ vin, kenapa kamu parkir ini mobil jauh banget ? “ Tanya Feby memulai obrolan ringan.
            “ mungkin kamu teman yang baik buat aku Feb. karena kamu berbeda dari yang lain. Aku akan cerita dari awal. Aku dulu tak seperti ini Feb. aku supel dalam bergaul aku punya band, aku punya cewek yang perhatian, tapi itu dulu Feb ketika aku masih kaya. “
            “ maksud kamu gimana ? perusahaan ayah kamu bangkrut ? “
            “ nggak Feb. keadaan berubah ketika ayahku tertuduh korupsi. Seketika itu pula hidupku perlahan berubah. Ketika aku sma kelas 1, aku sudah punya mobil, tetapi kemudian di sita Feb. saat itu pula teman band ku, sahabat ku, bahkan pacar ku meninggalkan ku Feb. bayangkan mereka dekat dengan aku, ketika aku senang, ketika aku sekarat, mereka pergi begitu saja Feb. “ Alvin menjelaskan, tanpa sadar air matanya menetes.
            “ tetapi, mama tak tinggal diam Feb, mama masih punya perkebunan di daerah sini. Hingga akhirnya aku pindah rumah Feb. Dan mulai berubah. Aku sudah tak percaya sama siapapun. Aku takut jika mereka telah melihat aku bangkit kembali, mereka hanya akan mendekatiku sementara Feb. Aku tak mau kejadian dulu terulang kembali Feb. Hingga akhirnya aku merubah sifat ku seperti ini “ jelas Alvin sambil menangis.
            “ yakinlah Vin, mereka itu berbeda dari temanmu yang dulu. Jangan jadi orang tertutup seperti ini. Gak semua orang itu sama Vin “ nasehat Feby untuk Alvin sambil Feby menepuk pundak Alvin lembut.
            “ iya Feb. aku akan coba berubah sepertii dulu. Makasih ya Feb. eh rumah mu mana? “ kata Alvin sambil menyunggingkan senyum.
            “ itu di gang depan “
            Ketika mobil Alvin telah tiba di depan rumah Feby, Feby pun turun dan kemudian Alvin meninggalkan Feby dengan senyuman.
Ω
            Hari ini Feby tampak bahagia, berkat Alvin telah mau berbagi dengan dirinya mulai siang tadi. Feby pun jadi tau, bahwa Alvin ternyata punya rahasia yang tak orang tau. Ia bahagia, karena ia percaya dengan dirinya.
Hay……
Secret,, aku lagi bahagia banget nih.. J
            Feby memulai ber YM rianya dengan secret admire. Ia ingin berbahagia dengan cowok yang ia kenal dekat melalui dunia maya ini.
Secret Admire : Seneng kenapa sih ?
Little_Fairy     : iya… cowok yang aku ceritain ke kamu, akhirnya mau ngomong juga sama aku. Dia sampai cerita masalah hidupnya ke aku.
Secret Admire : jangan – jangan dia jatuh cinta sama kamu. Buktinya dia mau berbagi cerita sama kamu. Aku cemburu nih L
Little_Fairy     : hahaha.. ya enggak lah… ye,, ngapain juga kamu cemburu ? :P
Secret Admire : kenapa ya ? :P bercanda kali’ :P oh iya, Little, kita kan udah lama nih kenal. Tapi kita nggak tau nama kita masing – masing. Boleh tau gak sih nama kamu siapa ?
Little_Fairy     : iya sih… kamu sih, nggak mau buka identitas kamu. Nama aku Feby. Kamu ?
Secret Admire : oh ya? Nama kamu Feby ? Nice Name. seperti nama gadis yang lagi aku deketin :D
Little_Fairy     : oh ya?? Kamu kok gak mau cerita – cerita sih kalau kamu lagi deket sama cewek L aku kan cemburu….
Secret Admire : gentian nih ceritanya :P iya deh… besok kita ketemuan, lalu aku ceritain deh ke kamu siapa cewek yang lagi aku deketin itu.
Little_Fairy     : oke deh.. dimana ? oh iya, nama kamu ?
Secret Admire : di café di deket jalan Melati… nama ku Satria
Little_Fairy     : disana ? deket banget sama rumah ku… oke deh pulang sekolah ya ?
Secret Admire : oke deh my Little_Fairy :P
            Sejenak, Feby menatap jam dinding yang terletak di kamarnya. Tak di sangka jam telah menunjukkan pukul 22.00. Feby kaget, ia tak mengira, kalau ia telah terlalu lama mengobrol dengan Secret Admire. Tanpa piker panjang ia langsung mematikan laptopnya. Lalu mematikan lampu kamarnya. Ia takut jika mamanya datang ke kamarnya dan melihat dirinya belum tidur. Bisa – bisa ia mendapat ocehan dari mamanya.
Ω
            Seorang cewek berambut sebahu memasuki Café “ Planet Teens “ masih lengkap dengan baju putih abu-abunya. Tak lain, cewek itu ialah Feby. Feby memenuhi janjinya dengan Satria.
            Sejenak ia menunggu cewek tersebut, sesuai dengan janjinya kemarin. Tanpa di duga Feby, ternyata tiba – tiba Alvin datang menghampirinya.
“ hey Feb.. “ sapa Alvin sambil menepuk bahu Feby.
“ Hey Vin… ngapain kesini ? “ Tanya Feby heran
“ iya nih.. lagi mau ketemuan sama cewek.. hahahaha “ jawab Alvin sambil tertawa
“ oh ya… sama dong… gimana kalau kita ketemuannya bareng aja. Kita tunggu disini bareng “
“ boleh juga tuh ide “ kata Alvin sambil menarik kursi ke depan hadapan Feby.
            Lama mereka menunggu seseorang yang mereka temui, namun tak satupun diantara mereka yang ditemui oleh kenalan mereka masing – masing.
“ Feb, cowok yang kamu temuin itu siapa sih ? “ Tanya Alvin memulai pembicaraan
“ dia itu cowok yang aku kenal lewat YM Vin… namanya Satria “
            Alvin tiba – tiba tersedak mendengar jawaban Feby.
“ jadi,, Little_Fairy itu kamu ?? aku Satria Feb “
“ nama kamu Alvin! Bukan Satria “
“ nama aku, Alvin Satria Prawira “ jawab Alvin yang ternyata Satria menjelaskan.
“ apa ?? Jadi selama ini secret admire itu kamu ?? aku gak nyangka banget “ kata Feby sambil tersipu malu.
            Mereka berdua pun kini hanya senyum – senyum sendiri. Tak disangka ternyata orang yang ingin mereka temui, ternyata ada di hadapan mereka masing – masing.
Ω
            Pagi ini tak seperti biasanya, tiba – tiba banyak sepasang mata, mengarahkan pandangannya ke 2 sejoli ini. Tak lain, yang mereka lihat adalah Feby dan Alvin. Mereka berdua tampak akrab berjalan berdua. Hal ini membuat seantero SMA tersebut kaget bukan main. Bagaimana bisa seorang Alvin yang dingin tiba – tiba bisa tertawa cekikikan dengan seorang gadis yang tak lain adalah Feby.
“ para penghuni SMA Nusa Bangsa ini, saya akan mengatakan bahwa saya Alvin Satria Prawira mencintai Feby Indah Permata. Dan ingin menjadi kekasih Feby “ kata Alvin menghentikan langkah Feby dan berteriak sekencang – kencangnya.
            Hal ini membuat penghuni SMA Nusa Bangsa kaget bukan main. Lagi – lagi mereka rtak mengira, kalau Alvin bisa berbuat senekat ini.
“ saya Feby Indah Permata, menerima Alvin Satria Prawira menjadi pacar saya “ kata Feby sambil malu – malu.
            Mentari pagi, dan sorak gembira penghuni SMA Nusa Bangsa, menghiasi langkah Feby dan Alvin menuju pintu kelas dan pintu kebahagiaan.